Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Thursday, September 27, 2012

Syukurilah, Nita.


Kembali kubaca dengan seksama daftar nama di majalah dinding sekolah ku sore itu. 
Hasilnya sama. 
Ya, tak kutemukan namaku tertulis disana. Tidak ada satupun susunan huruf yang menyatakan bahwa Yunita Arif dari kelas X7 ikut lolos seleksi untuk mewakili SMA kami dalam lomba Pentas Seni tahunan di kota ini.
Dadaku tersentak, aku tertegun sesaat. Tidak mampu menerima kenyataan yang aku lihat sekarang, seakan-akan waktu terhenti, bumi tak lagi berputar, dan angin semu membelai rambutku pelan sekali. Beberapa detik kemudian aku sadar, dan kubaca sekali lagi daftar nama itu. Sama saja. Bahkan tidak di dalam peserta cadangan. Tanganku mengepal, aku tak percaya ini terjadi. Aku terduduk di koridor sekolah, aku tak lagi memperdulikan ada berapa pasang mata yang memperhatikanku. Aku segera pergi dari kegelapan itu, dan berharap ini mimpi.

“Semoga nanti aku terbangun dan disekolah, di daftar nama itu, ada namaku tercantum sebagai peserta lomba menyanyi di Pentas Seni tahunan itu.”  Tuturku sembari berlari menuju kelas.

Langkahku tersendat, aku terjatuh didepan kelasku. Hilang sudah. Tidak ada lagi harapan. Apa yang ku perjuangkan selama ini percuma saja. Semua hanya sampah, makiku dalam hati. Sebenarnya aku sadar bahwa ini bukan mimpi, dan aku tahu bahwa semua usahaku sia-sia.

Kudengar lamat-lamat pengumuman dari ruang OSIS. “Untuk semua peserta yang lolos audisi untuk ikut serta dalam lomba Pentas Seni Tahun 2012, agar sepulang sekolah berkumpul di ruangan OSIS, terimakasih.” Dan 5 menit kemudian pun bel berbunyi, tanda bahwa pelajaran telah usai, dan kami di perbolehkan pulang.

Selepas tikungan, kuperlambat langkahku. Kusandarkan bahuku di tiang koridor sekolah. Lorong-lorong sekolah mulai sepi di tinggalkan penghuninya. Hingga segerombolan siswa berlari seraya bernyanyi memecah lamunanku. Ya, mereka adalah tim yang lolos seleksi, dan ikut dalam lomba Pentas Seni tersebut. Dan namaku tak tercantum didalamnya.

******

Kulemparkan tas bermotif bunga ku hingga seluruh isi nya termuntahkan ke lantai. Aku rebahkan tubuh ini di tepian kasur yang berseprai penuh dengan gambar awan yang menutupi bulan, kurasa bulan ini pemalu.
Aku ambil bagian muntahan dari tas ku tadi, buku harian, ku buka perlahan dan ku tatap kembali coretan ku dihalaman depan. “Aku adalah penyanyi terbaik dengan suara lebih merdu dari seekor burung kenari, aku akan mengguncang dunia.”  Aku menulis nya 4 tahun lalu, dan aku menyalin nya ke seluruh buku harianku dari dulu, hingga sekarang.

Aku bangun dari pembaringan, kuratap setiap sudut di kamarku, ratapanku terhenti pada sebuah foto, foto berbingkai kayu di atas meja belajarku, foto yang terdapat diriku dan penyanyi yang meng-inspirasiku hingga aku ingin menjadi seperti dia, dia yang mengajariku agar tak berputus asa dan terus berusaha. Ya, dialah yang sangat berarti dalam perjuanganku, Ibu ku.

Kembali, hal buruk itu menyerang kepalaku, aku mendesah, rasa kesal itu belum juga hilang. Kembali kurebahkan tubuhku, ku coba untuk pejamkan mata ini. Namun yang terlintas di benakku Cuma bayangan menakutkan. Bayangan tentang diriku sendiri. Ini tidak adil. Benar-benar tidak adil!
Menyanyi adalah obsesiku. Aku ingin menjadi penyanyi terkenal layaknya ibuku. “Raihlah, bila itu keinginanmudenag usahamu sendiri. Tapi, ketahuilah itu semua bukanlah perjuangan dalam semalam.” Setidak nya itu pesan ibuku dulu. 
Kucoba buktikan perkataan beliau. Sejak SMP, menyanyi sudah menjadi hal ketiga yang paling sering kulakukan setelah belajar dan shalat. Ku akui, kudapatkan sesuatu yang baru disana. Juga tentang keyakinan ini. Keyakinan yang membuatku percaya jika aku akan mampu menjadi yang terbaik. Hingga kenyataan ini dengan kasar membentakku. Kenyataan yang baru kusadari setelah hari, minggu, bulan, bahkan dalam hitungan tahun terlewati. Saat kucoba untuk mewujudkan bagian dari impianku, ternyata cuna untuk turut serta dalam lomba Pentas Seni tahunan antar SMA saja aku tidak mampu. Pecundang!

Aku menggerutu dengan keras. Pasti ada yang salah. Ya, pasti. Akulah kesalahan itu. Aku yang tidak bisa mencapai nada tinggi yang variatif. Aku yang tak mampu memainkan nada dengan benar. Aku yang tidak….
Ahh, aku kehilangan rasa percaya diriku. Untuk yang kesekian kalinya.
Aku menerawang. Ini pasti karena kejadian saat itu. 2 tahun lalu, ketika aku seharusnya berlatih untuk hal seperti ini, walau sudah dilarang ayah karena keadaanku yang tidak fit. Ya, ku membantah nya. Sehingga aku mengalami kecelakaan, saat itu aku sedang menjalani hari yang indah, bersama sinar matahari senja yang membelah cakrawala, dikelilingi oleh dedaunan yang berguguran saat musim kemarau, seketika, aku diserempet oleh pengemudi tidak bertanggung jawab.
Alhasil, terjadi cedera di kepalaku. Cedera yang menyebabkan kerusakan saraf yang menuju ke laring. Ya, laring adalah tempat dimana pita suara berada. Pita suaraku mengalami kelumpuhan 2 sisi. Ini menyebabkanku sangat sulit untuk bernafas, bahkan berbicara.
Hal ini dapat disembuhkan, ayahku memilih pembedahan yang lebih kecil resiko nya. Pembedahan untuk memisahkan kedua pita suara secara permanen. Hasilnya, saluran udara terbuka lebar, dan aku dapat bernafas dengan normal, akan tetapi, kualitas suara menjadi buruk.

Tapi, ini tidak adil, tidak fair. Mengapa harus aku? Mengapa mesti aku yang diserempet? Bukan mereka? Entah darimana datangnya, tiba-tiba kurasakan kebencianku membuncah. Kebencian irasional. Aku mulai membenci diriku sendiri. “Tuhan tidak adil!” pekikku tertahan.

******

“Ayo ulang kembali, hari ini tidak terlalu buruk.” Komentar pelatih vokal ku.
Kembali kulanjutkan latihan ku, setidaknya, disini, tidak aka nada pembandingan dengan murid lain, karena murid disini, hanya aku. Satu-satunya.
“Kurasa hari ini cukup, bu.” Ucapku lelah, ku comot botol air minumku dan langsung meminumnya, layaknya rusa yang hampir mati dehidrasi.
“Nita, ada masalah? Tidak biasanya lemes begini?”
Aku tersentak. Masalah, batinku. Masalahnya adalah aku. Aku yang cacat. Sehingga suaraku tidak sebagus yang lain. Andai saja waktu itu aku mendengarkan saran ayah, pasti tidak seperti ini. Pasti aku bisa lolos seleksi, dan tidak menutup kemungkinan akan menyongsong piala kemenangan.
Lagi-lagi bayangan itu muncul kembali. Kebencian dan penyesalan menyeruak menutupi benak hingga yang tersisa Cuma rasa benci.
“Ibu perhatikan daritadi, latihan kamu tidak seperti biasanya, semakin kacau. Kenapa? Kamu sakit? Tangan lembut itu menyentuh pundakku.”
“Ah , tidak. Cuma…”
“Cuma apa?”

Aku mendesah, kembali kuraih catatan lirik lagu itu, dan pura-pura membacanya. Tempat latihanku hanya berjarak 2 blok dari rumah, hari ini sepi. Sesepi biasanya, tampak nya tidak ada yang tertarik pada tempat les vokal yang sudah 4 tahun dibuka ini. Bu Yati, dialah pendiri tempat les vokal yang gagal dan seharusnya bangkrut ini, dan tampaknya, wanita berumur 36 tahun ini sangat sayang kepada tempat les ini, dan kepadaku. Sehingga dia tidak ingin menutup nya. Akulah orang yang sangat dekat dengan nya, selain bibi nya, satu-satunya sanak yang tersisa di hidupnya.
Akhirnya meluncurlah semuanya dari mulutku. Kuceritakan tentang keinginan, perjuangan selama ini, juga tentang kegagalan itu. Kegagalan yang tidak semestinya ada. Karena kata gagal tak pernah aku jumpai di kamus hidupku.
Bu Yati menatapku lama sekali. Hingga membuatku jengah.
“Nita, mari keluar sebentar.” Katanya sembari membimbing tanganku menuju luar ruangan yang hening. Keheningan melingkupi hingga kebisuan menebarkan pesonanya di antara pucuk-pucuk padi hijau yang berayun tersapu angin didepan sana.
Kulirik sosok yang berdiri disebelahku. Rambut sebahunya berderai diterpa angin. Masih saja mata tajam itu terpaku menatap redup matahari, di ujung langit petang. Selalu mengagumkan, batinku. Bulatan besar berwarna merah di cakrawala dibayangi langit jingga dengan siluet awan keperakan. Distorsi warna biru kelabu berbaur jingga seperti menjadi harmoni pada langit senja.

“Nita, indahkah itu semua? Disini selalu ibu habiskan waktuku saat senja, menutup mata sembari mendengarkan nyanyian klasik dari masalalu. Ibu lakukan semenjak 5 tahun yang lalu.”
“Ya, bu, indah sekali. Maaf, mengapa ibu melakukan nya setiap hari?”
“Agar…” Bu Yati mulai ragu menjawabnya.
“Agar apa, bu?” Aku mulai penasaran.
“Agar ibu bisa merasakan bagaimana rasanya duduk bersama anak ibu, yang begitu mencintai senja, dan sangat suka bernyanyi, layaknya dirimu, Nita. Kau tahu? Yang ditelingaku ini?” Bu Yati menunjuk alat yang terpasang ditelinganya.
“Ya, ini baru ibu beli 5 tahun yang lalu, tepat setahun sebelum ibu membuka tempat les vokal ini. Tepat setelah ibu menemukan selembar surat yang ditulis anak ibu sebelum dia wafat. 
Kertas itu adalah daftar lagu yang sering sekali dia nyanyikan saat kami menatap senja, dia menulisnya  agar ibu dapat mendengarkan lagu-lagu yang dia nyanyikan, yang tak pernah ibu dengarkan sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan ibu. 
Dia juga menyarankan untuk membuka les vokal ini, agar ibu mendengarkan banyak bakat luar biasa selain suara anak ibu, yang ibu sendiri tidak dapat mendengarkan suara merdunya sebelum dia wafat, ibu menderita cacat pendengaran.” Ucapnya datar. Namun perkataannya membuatku terhenyak. Lidahku kelu hingga terasa sulit untuk kembali bersuara.
“Ca … ca.. cacat pendengaran.” Desisku.
Terbayang olehku menatap heningnya dunia tanpa suara. Hampa.

“Tapi ibu tidak marah atau merasa perlu meratapinya, yang ibu sesalkan adalah ibu tidak dapat mendengarkan suara anak ibu, yang begitu hobi menyanyi, dan tidak bisa menjaganya sehingga penyakit seperti yang kau derita, Nita, pita suaranya lumpuh, sehinggga dia tidak dapat bernafas, dan akhirnya hal itu merenggut nyawanya. Ibu bersyukur, ibu masih dikaruniai banyak keindahan. Termasuk yang ibu lakukan saat ini.”
Badanku tersentak. Kurasakan sesuatu menjalari tubuhku.
“Nita….” Ucapnya kemudian. Lirih.
“Seperti apapun hidup, syukurilah, Nita. Pahami dalam setiap rangkaiannya, pasti ada makna. Sebab tak ada yang sia-sia dalam hidup ibu, hidup mu, juga kehidupan ini.”

Perasaan aneh seperti menderu dalam relung jiwaku. Rasa berdosa seolah telah menamparku. Aku tertunduk lemah bak kehilangan tulang penyangga tubuh. Tiba-tiba, aku merasa sangat ingin menangis. Sangat ingin menumpahkan air mata penyesalan ini pada sebuah sujud panjang.
“Astaghfirullah….,” gumamku terpatah-patah. Terlalu lirih mungkin desahku, hingga seperti hilang tertelan desir angin petang.

6 komentar:

  1. haha, trims, tampaknya komen nya bakal cuma ada 2 nih :D

    ReplyDelete
  2. saya hadir disini,,
    dan saya yang kelima,,

    ReplyDelete
  3. haha, tq tq tq buat yang genapin dan ganjilin, ntaran saya juga , ehh. aku juga mampir ke tempat kalian curahat dan menulis :D
    makasih renal

    ReplyDelete

>