"Aku tidak punya wewenang untuk berbohong dihadapan tuhan, akan tetapi, kamu punya pacar. Jadi, aku punya batasan untuk tidak meneruskan kejujuran ini."
Setidaknya itu yang harus aku katakan padamu sekarang. Karena memang benar ketika aku mengatakan kata Sayang, saat itu.
Ah sungguh sangat disayangkan mengapa aku harus mengenalmu 1 bulan yang lalu. Mengapa tidak 3 tahun yang lalu? Sebelum dia masuk kedalam kehidupanmu, mimpimu, pikiranmu, dan do'amu. Begitu klise ketika aku berharap begitu, dan kau? Kau hanya tertawa ketika tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapmu.
Semuanya memang selalu tiba-tiba, aku pun tak begitu mengerti dengan kehidupanmu di seberang sana, hal ini terbatas oleh kata "SKIP" yang selalu kau gunakan terhadapku. Tapi itu tak membatasi perhatianku terhadapmu, perhatian yang terus mengalir, sehingga menimbulkan rasa rindu. Dan ketika itu juga, aku mulai membutuhkanmu.
Entah sudah untuk keberapa kalinya aku menghempaskan rasa ini. Rasa yang tidak seharusnya menggelayut dikepalaku. Merusak ingatanku, dan mengisinya dengan memori manis tentang dirimu, candamu, suaramu, bahkan senyum mu yang begitu menggoda. Rasa rindu terhadapmu sungguh tidak lazim kurasakan. Sungguh kau tak akan tahu berapa banyak rindu yang memukulku setiap waktu.
Akhir-akhir ini tempo komunikasi kita sedikit menurun, ah aku memang bukan orang yang tepat untuk menuntut hal itu, aku mengerti akan kesibukan mu diluar sana. Meniti tali kehidupan untuk masa depan bukan hal yang mudah untuk kita semua. Aku akan mengusahakan untuk selalu memberimu Support dan semangat, serta perhatian agar kau tak merasa kesepian, walau memang kau memiliki banyak orang yang menyayangimu seperti keluarga, sahabat, dan pacarmu. Kau memang layak untuk mendapatkan semua itu, bukan aku.
Aku hanya orang yang menyukai kesendirian, bukan kesepian, tetapi hal ini membuatku memiliki waktu yang banyak untuk memikirkan solusi bagi segala masalah yang harus kuhadapi sebagai anak laki-laki satu-satunya dirumah ini. Terkadang dalam kesendirian aku menulis hal bodoh seperti ini, membaca, bahkan berkomunikasi dengan diriku sendiri.
Sungguh, aku terlalu takut untuk bertemu dengan mu. Aku hanya takut semua berubah, tak lagi sama seperti sekarang, walau memang aku mengharapkan berubah itu kearah yang baik, bukan buruk sehingga kau tak ingin mengenalku lagi.
Hei gadis pencinta ramen, aku sungguh berharap kau mengerti.
Aku hanya ingin menemani, bukan mengajakmu untuk pergi.
With Love,
Mayovi Ardian
>


sepertinya yang kali ini bisa, udah muncul psw code-nya.. hehe..mungkin tadi pagi lagi down ya blogspot. :)
ReplyDeletehm...sepertinya sosok yang kamu tulis di atas harus baca tulisan ini. :D
hehe mungkin kali kak.
ReplyDeleteyah jangan deh -_-
ntar adaa aja komentar dia, kak.
hihihi...justru kamu menulis karena pengen dia tau yang kamu rasain kan? :)
ReplyDeletekalo kamu nggak kepengen dia komentar dan sekedar menulis untuk dirimu sendiri, mending tulisannya dibuat sedikit 'terselubung' deh, biar orang yg dimaksud nggak ngerti hehehe
haha kok tau, kak :p
ReplyDeleteah dia nya sibuk kak. ga sempat bacain ini kali, haha
lain kali dibuat terselubung deh, kak. ;)
tulisannya bagus, pembaca bisa langsung merasakan detak tulisan ini. hehe...dan kalau saya jadi kamu, saya akan ungkapkan apa yg dirasa oleh saya, kpd dirinya.
ReplyDeletebtw selamat (terus) menulis.
Makasih banyak, kak. saya juga masih harus banyak banget belajar. ntar kalo ada cerpen lagi, saya pasti minta pendapat sama kakak.
ReplyDeleteyah dia juga udah baca, kak. tak ada perubahan sepertinya, hahah
Bagusloh tulisannya, saya suka hehe:D
ReplyDeleteMakasih jessica, tulisan kamu juga kelewat bagus :)
ReplyDelete