Bahagia
tak terkira ketika aku melihat dirimu, terlebih mengenal dan dekat. Kau yang
kucinta, memang berbeda. Dan yang kurasa kini bukanlah hal yang tak kau
mengerti. Cinta. Hal luar biasa yang bisa dirasakan manusia. Namun kau dan aku
berbeda, tujuan kita tak sama. Tujuanku merajut benang ini menjadi kain
bertuliskan “Bersama” di permukaannya. Dan kau?
Aku masih tak mengerti apa tujuanmu terhadapku.
Aku masih tak mengerti apa tujuanmu terhadapku.
Genap setahun kita saling
mengenal satu sama lain. Meski memang kau tak lagi ada dihadapanku seperti
dulu. Aku yang menunggu ditemani kehampaan. Bahagia tanpa luka yang kuharapkan
tak kunjung datang.
Memang aku tak sempurna seperti
yang kau harapkan. Tidak seperti beberapa orang yang pernah mendampingimu
sementara. Inilah diriku,yang terlalu banyak kekurangan. Aku hanya memiliki
cinta yang dapat kusuguhkan. Tulus tanpa sesuatu apapun dibaliknya. Bahagia
yang kutawarkan padamu tak ada apa-apanya dibandingkan yang ia tawarkan
terhadap dirimu, namun aku tetap setia menunggu.
Telah lama kita tak lagi saling
bercanda, saling menghibur, bercerita bersama. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku
yakin kau telah berbahagia bersamanya. Setidaknya itulah yang dapat kudoakan
disetiap malam kalbu sebelum tidurku. Namamu yang kurapal setelah nama
orangtuaku, dan adik juga kakakku.
Terkadang aku berpikir, apa yang
sedang kau lakukan, bagaimana indah senyummu, tawamu, bahkan wajahmu yang
mungkin bisa menyejukkan hatiku hari ini,
dan kapanpun aku melihatnya. Apakah kau merindukanku? Layaknya aku yang
selalu merindukanmu?
Kau pun mengerti betapa sendu
kurasa ketika kau memperlakukan orang yang kau cinta sebagaimana mestinya, tak
bisakah kau melakukan hal itu saat tidak didepanku? Bahkan kini sendu itu
kurasa. Sendu karena tidak mendapat perlakuan yang sama seperti lelaki itu. Tidak
mendapat perhatianmu, bahkan setetes rindumu. Aku tahu, kau memang tidak
mencintaiku.
Semuanya memang selalu tiba-tiba,
akupun tak begitu mengerti dengan kehidupanmu diseberang sana, hal ini terbatas
jarak yang selalu kau katakan kepadaku. Namun tak membatasi perhatianku padamu,
perhatian yang terus mengalir, dan menimbulkan rasa rindu. Ketika itu juga, aku
mulai membutuhkanmu.
Aku telah menyadari kau tak lagi
ada disisi. Seperti semuayang telah lalu, kini kau pun begitu. Tak mampu
kurebut, dan aku kehabisan waktu. Keadaan memang tak saling mendoakan. Aku yang
selalu mencintaimu kini terkhianati oleh keadaan yang tak dapat kukalahkan.
Bagaimanapun itu, aku akan selalu
berusaha menemani dirimu, kembali menorehkan senyum diwajamu yang manis ketika
terhapuskan sesuatu yang tak dapat kau tepis.
Pintu ini selalu terbuka untukmu setiap waktu kau merindu.
Pintu ini selalu terbuka untukmu setiap waktu kau merindu.
Tak sabar ingin melakukan hal
yang sama seperti sebelumnya. Tak banyak memang, setidaknya cukup untuk membuat
hati yang kini lelah menjadi kembali cerah. Kau energizer-ku, dan memang selalu begitu.
Bersama surat ini aku
menyampaikan beribu rindu yang menusukku tiap waktu. Aku berharap yang terbaik
selalu. Aku akan menepati janjiku yang pernah kugantungkan dihatimu. Setidaknya
aku yakin hal itu akan membuatmu sedikit tersenyum dan menghibur ketika kau gelisah
dan mengurangi rasa resah.
Aku
berharap kau mengerti akan waktu dan jarak yang kusebrangi. Untukmu orang yang
kucintai, ini bukan lagi tentang gombal seperti yang kau katakan. Benar ini
cinta yang kurasakan. Untukmu yang selalu kurindu, cinta tak mengenal jarak dan
waktu.
31
Januari 2015
Mayovi Ardian
Mayovi Ardian

0 komentar:
Post a Comment