Teringat masa lalu,
ketika kita bersama.
Saling merindu dan bercanda tawa.
Kau tahu? Yang paling kusuka namun akhirnya kubenci?
Saling cemburu, dan akhirnya membuatku gelisah, tak percaya diri.
Saling merindu dan bercanda tawa.
Kau tahu? Yang paling kusuka namun akhirnya kubenci?
Saling cemburu, dan akhirnya membuatku gelisah, tak percaya diri.
Terbesit kenangan
ketika kau menorehkan senyum diwajahku.
Hanya melalui sebuah pesan singkat yang memberi kabar tentangmu.
Kabar yang sedari pagi membuatku menunggu.
Tiap detik melihat ponsel, karenamu.
Hanya melalui sebuah pesan singkat yang memberi kabar tentangmu.
Kabar yang sedari pagi membuatku menunggu.
Tiap detik melihat ponsel, karenamu.
Benar saja, selama
bersamamu, inilah kebahagiaan.
Seperti calon pasangan
lainnya, kita pun sama.
Memiliki berbagai masalah yang sama.
Seperti tidak adanya kepercayaan satu sama lain.
Memiliki berbagai masalah yang sama.
Seperti tidak adanya kepercayaan satu sama lain.
Hal yang sakral dalam suatu hubungan, seperti benang dan kain.
Hingga saat bahagia
itu, kita pun bersama.
Memulai langkah baru bersama hati yang ceria.
Tak lupa segala canda dan tawa.
Membawa suatu kata yang berbeda, bahagia.
Memulai langkah baru bersama hati yang ceria.
Tak lupa segala canda dan tawa.
Membawa suatu kata yang berbeda, bahagia.
Seiring berjalannya
waktu, KITA itu seakan memudar.
Jarak yang aku pikir sekarang dekat, ternyata melebar.
Aku merasa sepi, namun aku mencoba tegar.
Dan berusaha menebalkan kembali kata KITA itu dengan sabar.
Jarak yang aku pikir sekarang dekat, ternyata melebar.
Aku merasa sepi, namun aku mencoba tegar.
Dan berusaha menebalkan kembali kata KITA itu dengan sabar.
Tetapi sepertinya
dirimu tak mendukung keadaan.
Semakin jauh, dan ternyata melakukan sesuatu yang meremukkan perasaan.
Kau membagi cintamu padaku, dan aku kau rusak perlahan.
Dirinya datang, mengambil peran.
Semakin jauh, dan ternyata melakukan sesuatu yang meremukkan perasaan.
Kau membagi cintamu padaku, dan aku kau rusak perlahan.
Dirinya datang, mengambil peran.
Setelah kejadian yang
menyakitkan itu.
Semua tak lagi sama, termasuk dirimu.
Dikala beradu argumen,
dan aku selalu kalah.
Disaat ingin membahas masalah, kau menghindar, seakan tak ada waktu dan membuatku resah.
Disaat ingin membahas masalah, kau menghindar, seakan tak ada waktu dan membuatku resah.
Kau menyalahkanku, seakan aku memang salah.
Seakan kau tidak pernah salah.
Dan aku mengalah, demi kita dimasa mendatang yang bahagia dan cerah.
Seakan kau tidak pernah salah.
Dan aku mengalah, demi kita dimasa mendatang yang bahagia dan cerah.
Terlalu banyak kata
yang ingin aku sampaikan.
Namun, itu mungkin akan
kembali menjadi masalah.
Dalam hubungan yang tak tentu arah.
Dalam hubungan yang tak tentu arah.

