Rindi merasa sangat gugup saat menghubungi keluarga Revi tadi. Sekarang mereka telah berada di ruangan yang berbau menusuk. Kursi yang dingin, dan dinding dengan cat serba putih. Rumah sakit. Terlihat wajah cemas Aini. Adik Revi bersama ibunya yang langsung datang kerumah sakit mendengar berita anak laki-lakinya itu ditabrak oleh mobil. Tidak begitu sial, ketika sang pengendara bertanggung jawab sepenuhnya, mulai dari membawa Rindi dan Revi kerumah sakit, hingga membiayai pengobatan.
Sementara Ibunda Revi berbicara
dengan sang Pengendara yang menabrak Revi, Aini, terlihat memegang secarik
kertas. Dan dengan berat hati diberikan nya kepada Rindi.
******
“Heh ngapain disini? Sana ah sana sana!”
“Hayoo abang nulis apaan tuh? Wajanya sendu
amat.” Aini memperolok abang tersayangnya.
“Bukan apa-apa, kalo gak pake jahil berapa
harganya mbok? Dibayar pake coklat mau?”
“Gak mau, ingin lihat. Kasih clue dikit aja,
bang? Wajah Aini memelas. Revi benar-benar tidak sanggup melihat wajah itu.
Aini menang, tersenyum sinis ketika abangnya akan mengibarkan bendera putih ala
Tom di serial Tom and Jerry. Tanda
menyerah.
“Ini surat cinta, tapi kayak dulu juga, bakalan
diletakkan didalam kotak.”
“Ciee abang. Ehem ehem. Buat siapa, bang?”
Sambil mengedipkan mata kanan nya. Aini makin penasaran.
Revi menerawang. Teringat sosok
yang sangat dicintainya sekarang.
“Rindi.” Jawabnya mantap.
******
Dengan
perasaan tak tentu arah. Bahagia, cemas, dan berbagai hal lain menumpuk dalam
suatu wadah. Otak. Jika saja hal itu bisa diukur dalam kilogram, mungkin di
otak Rindi, sudah menampung berpuluh-puluh kilogram perasaan yang
bercampur-aduk. Harap-harap cemas menunggu pulihnya pria yang menyelamatkannya
dari kecelakaan. Dan itu disebabkan oleh kebodohannya sendiri.
Kemarahan
bercampur kesedihan tidak pernah berakhir baik ketika tidak dikendalikan. Menyesal, ketika ia teringat hal tidak
berguna yang ia lakukan.
Berlari tanpa tujuan, mengarahkannya ke arah jalan.
Ditengah jalan, ia tak menyadari bahwa sesuatu akan
mencederainya, bahkan mungkin membunuhnya. Revi yang tidak membiarkan itu
terjadi, mengorbankan dirinya. Ia menyelamatkan pujaan hatinya. Agar orang
lain dapat melihat senyum Rindi yang seperti virus itu. Menular, sehingga yang
melihat senyumnya dengan mudah ikut tersenyum.
Air
mata Rindi mengalir tak terbendung, isak tangisnya lamat-lamat terdengar
dikoridor rumah sakit. Duduk disebelah saudara perempuan Revi. Menggenggam
secarik kertas yang dibawa Aini. Surat cinta yang tak pernah diberikan
kepadanya.
******
Dear Rindi.
Sungguh sangat disayangkan mengapa aku harus mengenalmu 1 bulan yang
lalu. Mengapa tidak 3 tahun yang lalu? Sebelum dia masuk kedalam kehidupanmu,
mimpimu, pikiranmu, dan do'amu. Begitu klise ketika aku berharap begitu, dan
kau? Kau mungkin hanya tertawa ketika tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya
terhadapmu.
Meskipun kau telah memiliki seseorang yang mengisi hatimu, menorehkan
senyum diwajahmu, itu tak cukup untuk membatasi perhatianku terhadapmu,perhatian
yang terus mengalir, sehingga menimbulkan rasa rindu. Dan ketika itu juga, aku
membutuhkanmu.
.Entah sudah untuk keberapa kalinya aku menghempaskan rasa ini. Rasa
yang tidak seharusnya menggelayut dikepalaku. Merusak ingatanku, dan mengisinya
dengan memori manis tentang dirimu, candamu, suaramu, bahkan senyum mu yang
begitu menggoda. Rasa rindu terhadapmu sungguh tidak lazim kurasakan. Sungguh
kau tak akan tahu berapa banyak rindu yang memukulku setiap waktu.
Aku
hanya orang yang menyukai kesendirian, bukan kesepian, tetapi hal ini membuatku
memiliki waktu yang banyak untuk memikirkan solusi bagi segala masalah yang
harus kuhadapi sebagai anak laki-laki satu-satunya dirumah ini. Terkadang dalam
kesendirian aku menulis hal bodoh seperti ini, membaca, bahkan berkomunikasi
dengan bulan dan diriku sendiri.
Kali
ini, aku begitu yakin akan cinta yang kumiliki. Kamu. Dan aku begitu percaya
bahwa cinta itu bukan sekedar saling memiliki. Aku percaya bahwa cinta itu
dikatakan sejati ketika aku senang membuatmu selalu bahagia, dan aku sedih
melihatmu menangis. Maka dari itu, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu
selalu bahagia. Menjaga senyum simpul yang menular itu tetap ada.
Hei
gadis pencinta boneka, aku sungguh berharap
kau mengerti.
Aku hanya ingin menemani, bukan mengajakmu untuk pergi.
Aku hanya ingin menemani, bukan mengajakmu untuk pergi.
With
Love, Revi.
******
Luka
Revi tidak begitu parah. Hanya saja ia membutuhkan istirahat yang cukup banyak
untuk memulihkan tulangnya yang patah akibat tidak dapat menghindari mobil yang
menabraknya ketika ia berlari tadi.
Kembali, air mata Rindi mengalir ketika melihat wajah penyelamatnya yang membuat hatinya
sejuk.
Rindi
kini mengerti mengapa Revi selalu berusaha ada disaat ia membutuhkan teman.
Selalu berhasil melukiskan rona diwajahnya, dan menorehkan senyum untuknya.
Sesungguhnya, senyum Revi lah yang sangat kronis penularannya. Dan tak
dipungkiri lagi, Rindi telah berjanji, untuk percaya kepada Tuhan, bahwa ketika
Revi kembali, ia akan bersedia untuk berkarya bersamanya menggunakan tinta di
atas kertas dengan satu tema
terakhir; Kebahagiaan.
Rindi
yang memakai sweater merah muda,
celana jeans, dan sepatu kets itu
berdiri didepan pintu kamar Revi, dirumah sakit itu. Tersenyum, memandang
pemilik rindu, cinta, dan hatinya.


0 komentar:
Post a Comment