Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Thursday, February 21, 2013

Mengapa Kamu Membuat Hal Sulit Ini Menjadi Begitu Indah? (Ending)




Rindi merasa sangat gugup saat menghubungi keluarga Revi tadi. Sekarang mereka telah berada di ruangan yang berbau menusuk. Kursi yang dingin, dan dinding dengan cat serba putih. Rumah sakit. Terlihat wajah cemas Aini. Adik Revi bersama ibunya yang langsung datang kerumah sakit mendengar berita anak laki-lakinya itu ditabrak oleh mobil. Tidak begitu sial, ketika sang pengendara bertanggung jawab sepenuhnya, mulai dari membawa Rindi dan Revi kerumah sakit, hingga membiayai pengobatan.
Sementara Ibunda Revi berbicara dengan sang Pengendara yang menabrak Revi, Aini, terlihat memegang secarik kertas. Dan dengan berat hati diberikan nya kepada Rindi.
******

“Heh ngapain disini? Sana ah sana sana!”
             
 “Hayoo abang nulis apaan tuh? Wajanya sendu amat.” Aini memperolok abang tersayangnya.
             
 “Bukan apa-apa, kalo gak pake jahil berapa harganya mbok? Dibayar pake coklat mau?”
             
 “Gak mau, ingin lihat. Kasih clue dikit aja, bang? Wajah Aini memelas. Revi benar-benar tidak sanggup melihat wajah itu. Aini menang, tersenyum sinis ketika abangnya akan mengibarkan bendera putih ala Tom di serial Tom and Jerry. Tanda menyerah.
             
 “Ini surat cinta, tapi kayak dulu juga, bakalan diletakkan didalam kotak.”
             
 “Ciee abang. Ehem ehem. Buat siapa, bang?” Sambil mengedipkan mata kanan nya. Aini makin penasaran.
Revi menerawang. Teringat sosok yang sangat dicintainya sekarang. 
“Rindi.” Jawabnya mantap.
******

Dengan perasaan tak tentu arah. Bahagia, cemas, dan berbagai hal lain menumpuk dalam suatu wadah. Otak. Jika saja hal itu bisa diukur dalam kilogram, mungkin di otak Rindi, sudah menampung berpuluh-puluh kilogram perasaan yang bercampur-aduk. Harap-harap cemas menunggu pulihnya pria yang menyelamatkannya dari kecelakaan. Dan itu disebabkan oleh kebodohannya sendiri.

 Kemarahan bercampur kesedihan tidak pernah berakhir baik ketika tidak dikendalikan. Menyesal, ketika ia teringat hal tidak berguna yang ia lakukan. Berlari tanpa tujuan, mengarahkannya ke arah jalan.

Ditengah jalan, ia tak menyadari bahwa sesuatu akan mencederainya, bahkan mungkin membunuhnya. Revi yang tidak membiarkan itu terjadi, mengorbankan dirinya. Ia menyelamatkan pujaan hatinya. Agar orang lain dapat melihat senyum Rindi yang seperti virus itu. Menular, sehingga yang melihat senyumnya dengan mudah ikut tersenyum.  

Air mata Rindi mengalir tak terbendung, isak tangisnya lamat-lamat terdengar dikoridor rumah sakit. Duduk disebelah saudara perempuan Revi. Menggenggam secarik kertas yang dibawa Aini. Surat cinta yang tak pernah diberikan kepadanya.
******
Dear Rindi.
Sungguh sangat disayangkan mengapa aku harus mengenalmu 1 bulan yang lalu. Mengapa tidak 3 tahun yang lalu? Sebelum dia masuk kedalam kehidupanmu, mimpimu, pikiranmu, dan do'amu. Begitu klise ketika aku berharap begitu, dan kau? Kau mungkin hanya tertawa ketika tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapmu.

Meskipun kau telah memiliki seseorang yang mengisi hatimu, menorehkan senyum diwajahmu, itu tak cukup untuk membatasi perhatianku terhadapmu,perhatian yang terus mengalir, sehingga menimbulkan rasa rindu. Dan ketika itu juga, aku membutuhkanmu.
.Entah sudah untuk keberapa kalinya aku menghempaskan rasa ini. Rasa yang tidak seharusnya menggelayut dikepalaku. Merusak ingatanku, dan mengisinya dengan memori manis tentang dirimu, candamu, suaramu, bahkan senyum mu yang begitu menggoda. Rasa rindu terhadapmu sungguh tidak lazim kurasakan. Sungguh kau tak akan tahu berapa banyak rindu yang memukulku setiap waktu.
Aku hanya orang yang menyukai kesendirian, bukan kesepian, tetapi hal ini membuatku memiliki waktu yang banyak untuk memikirkan solusi bagi segala masalah yang harus kuhadapi sebagai anak laki-laki satu-satunya dirumah ini. Terkadang dalam kesendirian aku menulis hal bodoh seperti ini, membaca, bahkan berkomunikasi dengan bulan dan diriku sendiri.
Kali ini, aku begitu yakin akan cinta yang kumiliki. Kamu. Dan aku begitu percaya bahwa cinta itu bukan sekedar saling memiliki. Aku percaya bahwa cinta itu dikatakan sejati ketika aku senang membuatmu selalu bahagia, dan aku sedih melihatmu menangis. Maka dari itu, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu selalu bahagia. Menjaga senyum simpul yang menular itu tetap ada.
Hei gadis pencinta boneka,  aku sungguh berharap kau mengerti.
Aku hanya ingin menemani, bukan mengajakmu untuk pergi.
With Love, Revi.
******

Luka Revi tidak begitu parah. Hanya saja ia membutuhkan istirahat yang cukup banyak untuk memulihkan tulangnya yang patah akibat tidak dapat menghindari mobil yang menabraknya ketika ia berlari tadi.

Kembali, air mata Rindi mengalir ketika melihat wajah penyelamatnya yang membuat hatinya sejuk.

Rindi kini mengerti mengapa Revi selalu berusaha ada disaat ia membutuhkan teman. Selalu berhasil melukiskan rona diwajahnya, dan menorehkan senyum untuknya. Sesungguhnya, senyum Revi lah yang sangat kronis penularannya. Dan tak dipungkiri lagi, Rindi telah berjanji, untuk percaya kepada Tuhan, bahwa ketika Revi kembali, ia akan bersedia untuk berkarya bersamanya menggunakan tinta di atas kertas dengan satu tema terakhir; Kebahagiaan.

Rindi yang memakai sweater merah muda, celana jeans, dan sepatu kets itu berdiri didepan pintu kamar Revi, dirumah sakit itu. Tersenyum, memandang pemilik rindu, cinta, dan hatinya.

“Revi, mengapa kamu membuat keadaan sulit ini menjadi begitu indah?”

0 komentar:

Post a Comment

>