Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Sunday, February 1, 2015

Walk Away.


Bahagia tak terkira ketika aku melihat dirimu, terlebih mengenal dan dekat. Kau yang kucinta, memang berbeda. Dan yang kurasa kini bukanlah hal yang tak kau mengerti. Cinta. Hal luar biasa yang bisa dirasakan manusia. Namun kau dan aku berbeda, tujuan kita tak sama. Tujuanku merajut benang ini menjadi kain bertuliskan “Bersama” di permukaannya. Dan kau?
            Aku masih tak mengerti apa tujuanmu terhadapku.




















Genap setahun kita saling mengenal satu sama lain. Meski memang kau tak lagi ada dihadapanku seperti dulu. Aku yang menunggu ditemani kehampaan. Bahagia tanpa luka yang kuharapkan tak kunjung datang.

Memang aku tak sempurna seperti yang kau harapkan. Tidak seperti beberapa orang yang pernah mendampingimu sementara. Inilah diriku,yang terlalu banyak kekurangan. Aku hanya memiliki cinta yang dapat kusuguhkan. Tulus tanpa sesuatu apapun dibaliknya. Bahagia yang kutawarkan padamu tak ada apa-apanya dibandingkan yang ia tawarkan terhadap dirimu, namun aku tetap setia menunggu.

Telah lama kita tak lagi saling bercanda, saling menghibur, bercerita bersama. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku yakin kau telah berbahagia bersamanya. Setidaknya itulah yang dapat kudoakan disetiap malam kalbu sebelum tidurku. Namamu yang kurapal setelah nama orangtuaku, dan adik juga kakakku.

Terkadang aku berpikir, apa yang sedang kau lakukan, bagaimana indah senyummu, tawamu, bahkan wajahmu yang mungkin bisa menyejukkan hatiku hari ini,  dan kapanpun aku melihatnya. Apakah kau merindukanku? Layaknya aku yang selalu merindukanmu?

Kau pun mengerti betapa sendu kurasa ketika kau memperlakukan orang yang kau cinta sebagaimana mestinya, tak bisakah kau melakukan hal itu saat tidak didepanku? Bahkan kini sendu itu kurasa. Sendu karena tidak mendapat perlakuan yang sama seperti lelaki itu. Tidak mendapat perhatianmu, bahkan setetes rindumu. Aku tahu, kau memang tidak mencintaiku.

Semuanya memang selalu tiba-tiba, akupun tak begitu mengerti dengan kehidupanmu diseberang sana, hal ini terbatas jarak yang selalu kau katakan kepadaku. Namun tak membatasi perhatianku padamu, perhatian yang terus mengalir, dan menimbulkan rasa rindu. Ketika itu juga, aku mulai membutuhkanmu.

Aku telah menyadari kau tak lagi ada disisi. Seperti semuayang telah lalu, kini kau pun begitu. Tak mampu kurebut, dan aku kehabisan waktu. Keadaan memang tak saling mendoakan. Aku yang selalu mencintaimu kini terkhianati oleh keadaan yang tak dapat kukalahkan.

Bagaimanapun itu, aku akan selalu berusaha menemani dirimu, kembali menorehkan senyum diwajamu yang manis ketika terhapuskan sesuatu yang tak dapat kau tepis.

Pintu ini selalu terbuka untukmu setiap waktu kau merindu.
Tak sabar ingin melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tak banyak memang, setidaknya cukup untuk membuat hati yang kini lelah menjadi kembali cerah. Kau energizer-ku, dan memang selalu begitu.
Bersama surat ini aku menyampaikan beribu rindu yang menusukku tiap waktu. Aku berharap yang terbaik selalu. Aku akan menepati janjiku yang pernah kugantungkan dihatimu. Setidaknya aku yakin hal itu akan membuatmu sedikit tersenyum dan menghibur ketika kau gelisah dan mengurangi rasa resah.


Aku berharap kau mengerti akan waktu dan jarak yang kusebrangi. Untukmu orang yang kucintai, ini bukan lagi tentang gombal seperti yang kau katakan. Benar ini cinta yang kurasakan. Untukmu yang selalu kurindu, cinta tak mengenal jarak dan waktu.

31 Januari 2015
Mayovi Ardian
>