Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Wednesday, March 18, 2020

Langkah Baru



In every step you take, there's always a risk in front of it. And you're the only one who can choose between take step, or stand still.



Jauh sebelum hari ini, sebuah rencana telah terbayang namun tak terang. Terlintas tapi tak tersimpan. Padahal ini adalah yang sangat diinginkan. Hal yang terlintas saatku melihatmu, seketika memaksa untuk tetap memandang. Jantung seakan berhenti, waktu tak lagi berlari, hari itu, hati ku tak ingin sendiri, seketika terucap, kuingin kau menjadi istri dan akan selalu kudampingi.

Namun tetap saja, dulu aku masih seorang bocah yang tak begitu paham akan arti kehidupan. Tak mengerti apa yang ada didepan. Dan bahkan tak sadar bahwa hidupku harus memiliki harapan. Aku hanya menjalani hidup sebagaimana remaja yang tak peduli masa depan. Masa bodoh terhadap hidup, selalu melakukan hal-hal yang tidak relevan.

Sekarang, telah kusadari bahwa semua yang telah kulakukan tak lagi apa yang sebenarnya kubutuhkan. Bertahun-tahun melakukan kebodohan tanpa memikirkan masa depan. Setiap hari menjalani rutinitas tak kenal rasa bosan. Tanpa sadar bahwa rutinitas itu kan membunuhku secarah perlahan.

Kemarin terlintas sesuatu yang pernah ku ucap. Teringat kamu, yang dulu selalu kudoakan saat gelap mulai pekat. Terbayang wajah manismu yang dengan mudahnya membuat hatiku terjerat. Aku bersyukur mendapatkan tujuan baru, berharap kamu sudi mendampingiku.

Aku sadar, ini tak akan mudah. Mengingat kita tak begitu saling mengenal, dan  terlalu jauh berbeda. Kamu tercipta untuk menebar bahagia, dan aku hanya orang yang sering menoreh luka. Kau dan aku, ku pikir tak akan pernah menjadi ”Kita”.

Akupun memberanikan diri untuk menelpon-mu, mengajak bertemu untuk membicarakan hal yang mungkin tak kau sangka. Hari itu, ditempat yang kau tentukan, tanpa pikir panjang aku langsung menyatakan bahwa aku ingin menikahimu, dan menjadikan kau istriku. Disitu kamu terdiam, lalu menjawab dengan lugas, “Aku belum bisa, mungkin 2 tahun lagi baru bisa menjawabnya.” Itu jawabanmu.

Sekarang bahkan 3 tahun telah berlalu. Banyak yang telah kita lalui semenjak pertemuan pertama itu. Sekarang kita berada disebuah gerbang besar bertuliskan Cinta dan Bahagia, ini adalah langkah paling besar yang harus kita lewati. Menapak duri dan pecahan kaca untuk memasuki gerbang ini. Apa kau berani?


Hari ini, adalah langkah baru yang sangat besar. Kita tapaki bersama bermodalkan cinta berharap bahagia. Segala  hal akan kita lalui bersama. Canda, tawa, sedih, luka, manis, pahit, getirnya hidup.  Semua kan kita rasakan bersama. Mulai hari ini, kamu tak akan pernah sendiri.




Cinta, sekarang takkan lagi sama, semua akan terlihat berbeda. Kita akan menulis sebuah memori bersama, manis walau tak begitu puitis. Indah walau tak terlalu romantis. Bersama, ku harap rasa ini takkan habis. Semoga hidup baru yang kita rintis, berakhir bahagia, bersinar terang melebihi kosmis.
>