In every step you take, there's always a risk in front of it. And you're the only one who can choose between take step, or stand still.
Jauh sebelum
hari ini, sebuah rencana telah terbayang namun tak terang. Terlintas tapi tak
tersimpan. Padahal ini adalah yang sangat diinginkan. Hal yang terlintas saatku
melihatmu, seketika memaksa untuk tetap memandang. Jantung seakan berhenti,
waktu tak lagi berlari, hari itu, hati ku tak ingin sendiri, seketika terucap,
kuingin kau menjadi istri dan akan selalu kudampingi.
Namun tetap
saja, dulu aku masih seorang bocah yang tak begitu paham akan arti kehidupan. Tak
mengerti apa yang ada didepan. Dan bahkan tak sadar bahwa hidupku harus
memiliki harapan. Aku hanya menjalani hidup sebagaimana remaja yang tak peduli
masa depan. Masa bodoh terhadap hidup, selalu melakukan hal-hal yang tidak
relevan.
Sekarang,
telah kusadari bahwa semua yang telah kulakukan tak lagi apa yang sebenarnya
kubutuhkan. Bertahun-tahun melakukan kebodohan tanpa memikirkan masa depan. Setiap
hari menjalani rutinitas tak kenal rasa bosan. Tanpa sadar bahwa rutinitas itu
kan membunuhku secarah perlahan.
Kemarin
terlintas sesuatu yang pernah ku ucap. Teringat kamu, yang dulu selalu kudoakan
saat gelap mulai pekat. Terbayang wajah manismu yang dengan mudahnya membuat
hatiku terjerat. Aku bersyukur mendapatkan tujuan baru, berharap kamu sudi
mendampingiku.
Aku sadar,
ini tak akan mudah. Mengingat kita tak begitu saling mengenal, dan terlalu jauh berbeda. Kamu tercipta untuk menebar
bahagia, dan aku hanya orang yang sering menoreh luka. Kau dan aku, ku pikir
tak akan pernah menjadi ”Kita”.
Akupun memberanikan
diri untuk menelpon-mu, mengajak
bertemu untuk membicarakan hal yang mungkin tak kau sangka. Hari itu, ditempat
yang kau tentukan, tanpa pikir panjang aku langsung menyatakan bahwa aku ingin
menikahimu, dan menjadikan kau istriku. Disitu kamu terdiam, lalu menjawab
dengan lugas, “Aku belum bisa, mungkin 2 tahun lagi baru bisa menjawabnya.” Itu
jawabanmu.
Sekarang
bahkan 3 tahun telah berlalu. Banyak yang telah kita lalui semenjak pertemuan
pertama itu. Sekarang kita berada disebuah gerbang besar bertuliskan Cinta dan
Bahagia, ini adalah langkah paling besar yang harus kita lewati. Menapak duri
dan pecahan kaca untuk memasuki gerbang ini. Apa kau berani?
Hari ini,
adalah langkah baru yang sangat besar. Kita tapaki bersama bermodalkan cinta
berharap bahagia. Segala hal akan kita
lalui bersama. Canda, tawa, sedih, luka, manis, pahit, getirnya hidup. Semua kan kita rasakan bersama. Mulai hari
ini, kamu tak akan pernah sendiri.
Cinta, sekarang takkan lagi sama, semua akan
terlihat berbeda. Kita akan menulis sebuah memori bersama, manis walau tak
begitu puitis. Indah walau tak terlalu romantis. Bersama, ku harap rasa ini
takkan habis. Semoga hidup baru yang kita rintis, berakhir bahagia, bersinar
terang melebihi kosmis.

