Suasana
sepi menyelimuti kelas-kelas yang kosong. Terdengar suara derit pintu yang
didorong oleh Resti, membuka kelas yang biasa ia tempati. Tempat dimana ia
menimba ilmu hampir setahun terakhir itu. Dalam matanya, terlintas berbagai
macam peristiwa, dimulai dari beberapa dari mereka didalam kelas yang berbicara
saat guru menjelaskan, tertawa, saling ejek-ejekan, dan yang dilempar penghapus
papan saat ketahuan oleh guru bahwa mereka tidak memperhatikan pelajaran.
Resti,
gadis dengan mata bulat bersama lesung yang menemani pipinya, tidak lagi dapat
membendung airmatanya. Menetes begitu saja ketika ia mengingat bahwa masa indah
kala remajanya akan berakhir, dan berganti dengan masa peralihan menuju dewasa
yang diiringi tugas kuliah yang melelahkan.
Disekolah,
hanya terlihat anak-anak kelas dua dan kelas satu. Hanya segelintir anak kelas
tiga yang datang kesekolah. Mungkin karena yang lain sedang les diluar sekolah
demi mengejar ketinggalan mereka untuk mengerjakan ujian nasional esok hari.
Resti
melangkahkan kaki menuju tempat ia biasa menghabiskan hari-hari pasca ujian
sekolahnya, kantin.
“Hei, Res, lama banget sih nyampe nya?”
“Iya nih si Resti kelamaan.” Sapa dua sahabat karib Resti yang terlihat sedang minum Pop Ice itu.
“Hei, Res, lama banget sih nyampe nya?”
“Iya nih si Resti kelamaan.” Sapa dua sahabat karib Resti yang terlihat sedang minum Pop Ice itu.
“Iya
maaf, aku kesiangan nih, soalnya tadi malem nemenin Ayah nonton bola, hehe.”
Mila dan Syifa hanya menaikkan alis kanan mereka, tanda bahwa mereka tidak mempercayai hal itu.
Mila dan Syifa hanya menaikkan alis kanan mereka, tanda bahwa mereka tidak mempercayai hal itu.
Mila
dan Syifa adalah teman sekelas Resti, mereka bertiga sering disebut The Three Musketeers, karena mereka
selalu bersama meski apapun yang terjadi. Sangat solid.
Hari-hari
pasca ujian sekolah akan berganti nama menjadi hari-hari pasca ujian nasional. The Three Musketeers merenung.
“Sedih rasanya bakalan ninggalin Pop Ice.” Mila melirih sambil mengguncangkan minumannya.
“Yang itu masih bisa diminum lain kali kan? Yang sedih itu ya ninggalin momen kayak gini.” Timpal Resti.
“Momen yang gimana, Res?” Tanya Syifa.
“Ya momen kita, inget gak pas mau ujian sekolah? Malah ngumpul disini ampe sore ama anak-anak kelas. Duduk-duduk, cerita, ketawa ampe lupa kalo besoknya ujian. Ada yang ngupil, ada yang gini, ada yang gitu, tapi kita maklumin. Kita udah kayak keluarga beneran.” Resti menjelaskan.
“Iya, aku inget waktu si Risa nyisir rambutnya, terus bukan rambut yang rontok, malah sisirnya, hehe, udah ketuaan tuh sisirnya.” Tambah Mila dengan tawa lesu dan matanya yang berkaca-kaca, ketika mereka flashback menuju kejadian beberapa waktu lalu.
“Sedih rasanya bakalan ninggalin Pop Ice.” Mila melirih sambil mengguncangkan minumannya.
“Yang itu masih bisa diminum lain kali kan? Yang sedih itu ya ninggalin momen kayak gini.” Timpal Resti.
“Momen yang gimana, Res?” Tanya Syifa.
“Ya momen kita, inget gak pas mau ujian sekolah? Malah ngumpul disini ampe sore ama anak-anak kelas. Duduk-duduk, cerita, ketawa ampe lupa kalo besoknya ujian. Ada yang ngupil, ada yang gini, ada yang gitu, tapi kita maklumin. Kita udah kayak keluarga beneran.” Resti menjelaskan.
“Iya, aku inget waktu si Risa nyisir rambutnya, terus bukan rambut yang rontok, malah sisirnya, hehe, udah ketuaan tuh sisirnya.” Tambah Mila dengan tawa lesu dan matanya yang berkaca-kaca, ketika mereka flashback menuju kejadian beberapa waktu lalu.
UN
pun telah berakhir. Segala siswa-siswi kelas tiga SMA boleh sedikit
menghembuskan nafas lega, dan tinggal berdoa untuk hasil yang terbaik. Resti,
Mila, dan Syifa duduk berderetan. Mila dan Syifa bersandar dibahu Resti yang
berada ditengah mereka, dengan kesibukannya sendiri, mereka memperhatikan handphone masing-masing. Mila yang
melihat foto pacarnya, Resti yang sedang browsing
info penting tentang tempat dimana ia akan kuliah, syifa hanya melihat-lihat
foto teman-teman sekelasnya ketika mereka mendekorasi kelas.
Senyum
telah tiba diwajah Syifa ketika ia melihat foto-foto tersebut. Teman-teman
dengan wajah kusut mereka ketika memikirkan tema dekorasi untuk kelas, yang
sedang tertawa saat memainkan cat, dan foto bersama ketika kelas sudah selesai
didekorasi, teman-teman dengan bercak-bercak cat diwajah, baju, dan celana
mereka, menyisakan tulisan, “Sukses, dan Lulus 100%!” didinding kelas bagian
belakang.
******
Masa
SMA itu bukan masa dimana hanya kebahagiaan itu berada. Sesungguhnya, kitalah
yang membuat kebahagiaan itu, apa artinya SMA ketika kita tidak dapat
menciptakan kebahagiaan tersebut? Coba kembali kita lihat kebelakang, apa yang
telah kita lakukan dimasa tersebut. Yang terlihat adalah saat dimana teman kita
sedang dihukum dan kita mentertawainya. Terlihat pula saat dimana kita serius
belajar, satu sama lain saling membantu.
Tak
lupa pula ketika kita belajar diluar kelas. Laboratorium atau lapangan olahraga
misalnya? Ketika tertawa saat melihat teman yang tidak suka olahraga, namun
dipaksa oleh guru. Momen ketika kita dikantin? Mengerjakan tugas diluar
sekolah? Apapun itu, sebenarnya jika kita mengingatnya, sudah cukup
membahagiakan. Itu artinya kita tidak menyia-nyiakan apa sedang kita lewatkan
disekolah. Ya kan?
Ini
saatnya untuk belajar melepaskan, meski memang berat untuk meninggalkan. Tapi
tinggal ditempat yang sama juga bukan pilihan yang tepat. Kita hanya berpisah
sementara, menjadikan hidup kita lebih bermakna, berguna, lebih baik, dan
ketika itu pula, tanpa sadar kita akan kembali kedalam masa SMA. Karena hal itu
hidup didalam pikiran dan hati kita.
PS
: Semoga sukses untuk seluruh siswa siswi yang sedang berada dipenghujung masa
SMA mereka. Semoga lulus, dan bisa menjadikan diri menjadi lebih bermakna
didalam kehidupan masyarakat luas.


0 komentar:
Post a Comment