Kembali kubaca dengan seksama
daftar nama di majalah dinding sekolah ku sore itu.
Hasilnya sama.
Ya, tak
kutemukan namaku tertulis disana. Tidak ada satupun susunan huruf yang
menyatakan bahwa Yunita Arif dari kelas X7 ikut lolos seleksi untuk mewakili SMA
kami dalam lomba Pentas Seni tahunan di kota ini.
Dadaku tersentak, aku tertegun
sesaat. Tidak mampu menerima kenyataan yang aku lihat sekarang, seakan-akan
waktu terhenti, bumi tak lagi berputar, dan angin semu membelai rambutku pelan
sekali. Beberapa detik kemudian aku sadar, dan kubaca sekali lagi daftar nama
itu. Sama saja. Bahkan tidak di dalam peserta cadangan. Tanganku mengepal, aku
tak percaya ini terjadi. Aku terduduk di koridor sekolah, aku tak lagi
memperdulikan ada berapa pasang mata yang memperhatikanku. Aku segera pergi
dari kegelapan itu, dan berharap ini mimpi.
“Semoga
nanti aku terbangun dan disekolah, di daftar nama itu, ada namaku tercantum
sebagai peserta lomba menyanyi di Pentas Seni tahunan itu.” Tuturku sembari berlari menuju kelas.
Langkahku tersendat, aku terjatuh
didepan kelasku. Hilang sudah. Tidak ada lagi harapan. Apa yang ku perjuangkan
selama ini percuma saja. Semua hanya
sampah, makiku dalam hati. Sebenarnya aku sadar bahwa ini bukan mimpi, dan
aku tahu bahwa semua usahaku sia-sia.
Kudengar lamat-lamat pengumuman
dari ruang OSIS. “Untuk semua peserta yang lolos audisi untuk ikut serta dalam
lomba Pentas Seni Tahun 2012, agar sepulang sekolah berkumpul di ruangan OSIS,
terimakasih.” Dan 5 menit kemudian pun bel berbunyi, tanda bahwa pelajaran
telah usai, dan kami di perbolehkan pulang.
Selepas tikungan, kuperlambat
langkahku. Kusandarkan bahuku di tiang koridor sekolah. Lorong-lorong sekolah
mulai sepi di tinggalkan penghuninya. Hingga segerombolan siswa berlari seraya
bernyanyi memecah lamunanku. Ya, mereka adalah tim yang lolos seleksi, dan ikut
dalam lomba Pentas Seni tersebut. Dan namaku tak tercantum didalamnya.
******
Kulemparkan tas bermotif bunga ku
hingga seluruh isi nya termuntahkan ke lantai. Aku rebahkan tubuh ini di tepian
kasur yang berseprai penuh dengan gambar awan yang menutupi bulan, kurasa bulan
ini pemalu.
Aku ambil bagian muntahan dari tas
ku tadi, buku harian, ku buka perlahan dan ku tatap kembali coretan ku
dihalaman depan. “Aku adalah penyanyi terbaik
dengan suara lebih merdu dari seekor burung kenari, aku akan mengguncang
dunia.” Aku menulis nya 4 tahun
lalu, dan aku menyalin nya ke seluruh buku harianku dari dulu, hingga sekarang.
Aku bangun dari pembaringan,
kuratap setiap sudut di kamarku, ratapanku terhenti pada sebuah foto, foto
berbingkai kayu di atas meja belajarku, foto yang terdapat diriku dan penyanyi
yang meng-inspirasiku hingga aku ingin menjadi seperti dia, dia yang
mengajariku agar tak berputus asa dan terus berusaha. Ya, dialah yang sangat
berarti dalam perjuanganku, Ibu ku.
Kembali, hal buruk itu menyerang
kepalaku, aku mendesah, rasa kesal itu belum juga hilang. Kembali kurebahkan
tubuhku, ku coba untuk pejamkan mata ini. Namun yang terlintas di benakku Cuma
bayangan menakutkan. Bayangan tentang diriku sendiri. Ini tidak adil.
Benar-benar tidak adil!
Menyanyi adalah obsesiku. Aku ingin
menjadi penyanyi terkenal layaknya ibuku. “Raihlah,
bila itu keinginanmudenag usahamu sendiri. Tapi, ketahuilah itu semua bukanlah
perjuangan dalam semalam.” Setidak nya itu pesan ibuku dulu.
Kucoba
buktikan perkataan beliau. Sejak SMP, menyanyi sudah menjadi hal ketiga yang
paling sering kulakukan setelah belajar dan shalat. Ku akui, kudapatkan sesuatu
yang baru disana. Juga tentang keyakinan ini. Keyakinan yang membuatku percaya
jika aku akan mampu menjadi yang terbaik. Hingga kenyataan ini dengan kasar
membentakku. Kenyataan yang baru kusadari setelah hari, minggu, bulan, bahkan
dalam hitungan tahun terlewati. Saat kucoba untuk mewujudkan bagian dari
impianku, ternyata cuna untuk turut serta dalam lomba Pentas Seni tahunan antar
SMA saja aku tidak mampu. Pecundang!
Aku menggerutu dengan keras. Pasti
ada yang salah. Ya, pasti. Akulah kesalahan itu. Aku yang tidak bisa mencapai
nada tinggi yang variatif. Aku yang tak mampu memainkan nada dengan benar. Aku
yang tidak….
Ahh, aku kehilangan rasa percaya
diriku. Untuk yang kesekian kalinya.
Aku menerawang. Ini pasti karena
kejadian saat itu. 2 tahun lalu, ketika aku seharusnya berlatih untuk hal
seperti ini, walau sudah dilarang ayah karena keadaanku yang tidak fit. Ya, ku
membantah nya. Sehingga aku mengalami kecelakaan, saat itu aku sedang menjalani
hari yang indah, bersama sinar matahari senja yang membelah cakrawala,
dikelilingi oleh dedaunan yang berguguran saat musim kemarau, seketika, aku
diserempet oleh pengemudi tidak bertanggung jawab.
Alhasil, terjadi cedera di
kepalaku. Cedera yang menyebabkan kerusakan saraf yang menuju ke laring. Ya,
laring adalah tempat dimana pita suara berada. Pita suaraku mengalami
kelumpuhan 2 sisi. Ini menyebabkanku sangat sulit untuk bernafas, bahkan
berbicara.
Hal ini dapat disembuhkan, ayahku
memilih pembedahan yang lebih kecil resiko nya. Pembedahan untuk memisahkan
kedua pita suara secara permanen. Hasilnya, saluran udara terbuka lebar, dan
aku dapat bernafas dengan normal, akan tetapi, kualitas suara menjadi buruk.
Tapi, ini tidak adil, tidak fair. Mengapa harus aku? Mengapa mesti aku yang diserempet? Bukan mereka? Entah
darimana datangnya, tiba-tiba kurasakan kebencianku membuncah. Kebencian
irasional. Aku mulai membenci diriku sendiri. “Tuhan tidak adil!” pekikku
tertahan.
******
“Ayo ulang kembali, hari ini tidak
terlalu buruk.” Komentar pelatih vokal ku.
Kembali kulanjutkan latihan ku, setidaknya, disini, tidak aka nada pembandingan dengan murid lain, karena murid disini, hanya aku. Satu-satunya.
“Kurasa hari ini cukup, bu.” Ucapku lelah, ku comot botol air minumku dan langsung meminumnya, layaknya rusa yang hampir mati dehidrasi.
Kembali kulanjutkan latihan ku, setidaknya, disini, tidak aka nada pembandingan dengan murid lain, karena murid disini, hanya aku. Satu-satunya.
“Kurasa hari ini cukup, bu.” Ucapku lelah, ku comot botol air minumku dan langsung meminumnya, layaknya rusa yang hampir mati dehidrasi.
“Nita, ada masalah? Tidak biasanya
lemes begini?”
Aku tersentak. Masalah, batinku. Masalahnya adalah aku. Aku yang cacat. Sehingga suaraku tidak sebagus yang lain. Andai saja waktu itu aku mendengarkan saran ayah, pasti tidak seperti ini. Pasti aku bisa lolos seleksi, dan tidak menutup kemungkinan akan menyongsong piala kemenangan.
Aku tersentak. Masalah, batinku. Masalahnya adalah aku. Aku yang cacat. Sehingga suaraku tidak sebagus yang lain. Andai saja waktu itu aku mendengarkan saran ayah, pasti tidak seperti ini. Pasti aku bisa lolos seleksi, dan tidak menutup kemungkinan akan menyongsong piala kemenangan.
Lagi-lagi bayangan itu muncul
kembali. Kebencian dan penyesalan menyeruak menutupi benak hingga yang tersisa
Cuma rasa benci.
“Ibu perhatikan daritadi, latihan
kamu tidak seperti biasanya, semakin kacau. Kenapa? Kamu sakit? Tangan lembut
itu menyentuh pundakku.”
“Ah , tidak. Cuma…”
“Cuma apa?”
Aku mendesah, kembali kuraih
catatan lirik lagu itu, dan pura-pura membacanya. Tempat latihanku hanya
berjarak 2 blok dari rumah, hari ini sepi. Sesepi biasanya, tampak nya tidak
ada yang tertarik pada tempat les vokal yang sudah 4 tahun dibuka ini. Bu Yati,
dialah pendiri tempat les vokal yang gagal dan seharusnya bangkrut ini, dan
tampaknya, wanita berumur 36 tahun ini sangat sayang kepada tempat les ini, dan
kepadaku. Sehingga dia tidak ingin menutup nya. Akulah orang yang sangat dekat
dengan nya, selain bibi nya, satu-satunya sanak yang tersisa di hidupnya.
Akhirnya meluncurlah semuanya dari
mulutku. Kuceritakan tentang keinginan, perjuangan selama ini, juga tentang kegagalan
itu. Kegagalan yang tidak semestinya ada. Karena kata gagal tak pernah aku
jumpai di kamus hidupku.
Bu Yati menatapku lama sekali.
Hingga membuatku jengah.
“Nita, mari keluar sebentar.”
Katanya sembari membimbing tanganku menuju luar ruangan yang hening. Keheningan
melingkupi hingga kebisuan menebarkan pesonanya di antara pucuk-pucuk padi
hijau yang berayun tersapu angin didepan sana.
Kulirik sosok yang berdiri
disebelahku. Rambut sebahunya berderai diterpa angin. Masih saja mata tajam itu
terpaku menatap redup matahari, di ujung langit petang. Selalu mengagumkan, batinku. Bulatan besar berwarna merah di
cakrawala dibayangi langit jingga dengan siluet awan keperakan. Distorsi warna
biru kelabu berbaur jingga seperti menjadi harmoni pada langit senja.
“Nita, indahkah itu semua? Disini
selalu ibu habiskan waktuku saat senja, menutup mata sembari mendengarkan
nyanyian klasik dari masalalu. Ibu lakukan semenjak 5 tahun yang lalu.”
“Ya, bu, indah sekali. Maaf,
mengapa ibu melakukan nya setiap hari?”
“Agar…” Bu Yati mulai ragu
menjawabnya.
“Agar apa, bu?” Aku mulai
penasaran.
“Agar ibu bisa merasakan bagaimana
rasanya duduk bersama anak ibu, yang begitu mencintai senja, dan sangat suka
bernyanyi, layaknya dirimu, Nita. Kau tahu? Yang ditelingaku ini?” Bu Yati
menunjuk alat yang terpasang ditelinganya.
“Ya, ini baru ibu beli 5 tahun yang
lalu, tepat setahun sebelum ibu membuka tempat les vokal ini. Tepat setelah ibu
menemukan selembar surat yang ditulis anak ibu sebelum dia wafat.
Kertas itu
adalah daftar lagu yang sering sekali dia nyanyikan saat kami menatap senja,
dia menulisnya agar ibu dapat
mendengarkan lagu-lagu yang dia nyanyikan, yang tak pernah ibu dengarkan
sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan ibu.
Dia juga menyarankan untuk
membuka les vokal ini, agar ibu mendengarkan banyak bakat luar biasa selain
suara anak ibu, yang ibu sendiri tidak dapat mendengarkan suara merdunya
sebelum dia wafat, ibu menderita cacat pendengaran.” Ucapnya datar. Namun
perkataannya membuatku terhenyak. Lidahku kelu hingga terasa sulit untuk
kembali bersuara.
“Ca … ca.. cacat pendengaran.”
Desisku.
Terbayang olehku menatap heningnya
dunia tanpa suara. Hampa.
“Tapi ibu tidak marah atau merasa
perlu meratapinya, yang ibu sesalkan adalah ibu tidak dapat mendengarkan suara
anak ibu, yang begitu hobi menyanyi, dan tidak bisa menjaganya sehingga penyakit
seperti yang kau derita, Nita, pita suaranya lumpuh, sehinggga dia tidak dapat
bernafas, dan akhirnya hal itu merenggut nyawanya. Ibu bersyukur, ibu masih
dikaruniai banyak keindahan. Termasuk yang ibu lakukan saat ini.”
Badanku tersentak. Kurasakan
sesuatu menjalari tubuhku.
“Nita….” Ucapnya kemudian. Lirih.
“Seperti apapun hidup, syukurilah, Nita.
Pahami dalam setiap rangkaiannya, pasti ada makna. Sebab tak ada yang sia-sia
dalam hidup ibu, hidup mu, juga kehidupan ini.”
Perasaan aneh seperti menderu dalam
relung jiwaku. Rasa berdosa seolah telah menamparku. Aku tertunduk lemah bak
kehilangan tulang penyangga tubuh. Tiba-tiba, aku merasa sangat ingin menangis.
Sangat ingin menumpahkan air mata penyesalan ini pada sebuah sujud panjang.
“Astaghfirullah….,” gumamku
terpatah-patah. Terlalu lirih mungkin desahku, hingga seperti hilang tertelan
desir angin petang.




