Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Thursday, September 27, 2012

Syukurilah, Nita.


Kembali kubaca dengan seksama daftar nama di majalah dinding sekolah ku sore itu. 
Hasilnya sama. 
Ya, tak kutemukan namaku tertulis disana. Tidak ada satupun susunan huruf yang menyatakan bahwa Yunita Arif dari kelas X7 ikut lolos seleksi untuk mewakili SMA kami dalam lomba Pentas Seni tahunan di kota ini.
Dadaku tersentak, aku tertegun sesaat. Tidak mampu menerima kenyataan yang aku lihat sekarang, seakan-akan waktu terhenti, bumi tak lagi berputar, dan angin semu membelai rambutku pelan sekali. Beberapa detik kemudian aku sadar, dan kubaca sekali lagi daftar nama itu. Sama saja. Bahkan tidak di dalam peserta cadangan. Tanganku mengepal, aku tak percaya ini terjadi. Aku terduduk di koridor sekolah, aku tak lagi memperdulikan ada berapa pasang mata yang memperhatikanku. Aku segera pergi dari kegelapan itu, dan berharap ini mimpi.

“Semoga nanti aku terbangun dan disekolah, di daftar nama itu, ada namaku tercantum sebagai peserta lomba menyanyi di Pentas Seni tahunan itu.”  Tuturku sembari berlari menuju kelas.

Langkahku tersendat, aku terjatuh didepan kelasku. Hilang sudah. Tidak ada lagi harapan. Apa yang ku perjuangkan selama ini percuma saja. Semua hanya sampah, makiku dalam hati. Sebenarnya aku sadar bahwa ini bukan mimpi, dan aku tahu bahwa semua usahaku sia-sia.

Kudengar lamat-lamat pengumuman dari ruang OSIS. “Untuk semua peserta yang lolos audisi untuk ikut serta dalam lomba Pentas Seni Tahun 2012, agar sepulang sekolah berkumpul di ruangan OSIS, terimakasih.” Dan 5 menit kemudian pun bel berbunyi, tanda bahwa pelajaran telah usai, dan kami di perbolehkan pulang.

Selepas tikungan, kuperlambat langkahku. Kusandarkan bahuku di tiang koridor sekolah. Lorong-lorong sekolah mulai sepi di tinggalkan penghuninya. Hingga segerombolan siswa berlari seraya bernyanyi memecah lamunanku. Ya, mereka adalah tim yang lolos seleksi, dan ikut dalam lomba Pentas Seni tersebut. Dan namaku tak tercantum didalamnya.

******

Kulemparkan tas bermotif bunga ku hingga seluruh isi nya termuntahkan ke lantai. Aku rebahkan tubuh ini di tepian kasur yang berseprai penuh dengan gambar awan yang menutupi bulan, kurasa bulan ini pemalu.
Aku ambil bagian muntahan dari tas ku tadi, buku harian, ku buka perlahan dan ku tatap kembali coretan ku dihalaman depan. “Aku adalah penyanyi terbaik dengan suara lebih merdu dari seekor burung kenari, aku akan mengguncang dunia.”  Aku menulis nya 4 tahun lalu, dan aku menyalin nya ke seluruh buku harianku dari dulu, hingga sekarang.

Aku bangun dari pembaringan, kuratap setiap sudut di kamarku, ratapanku terhenti pada sebuah foto, foto berbingkai kayu di atas meja belajarku, foto yang terdapat diriku dan penyanyi yang meng-inspirasiku hingga aku ingin menjadi seperti dia, dia yang mengajariku agar tak berputus asa dan terus berusaha. Ya, dialah yang sangat berarti dalam perjuanganku, Ibu ku.

Kembali, hal buruk itu menyerang kepalaku, aku mendesah, rasa kesal itu belum juga hilang. Kembali kurebahkan tubuhku, ku coba untuk pejamkan mata ini. Namun yang terlintas di benakku Cuma bayangan menakutkan. Bayangan tentang diriku sendiri. Ini tidak adil. Benar-benar tidak adil!
Menyanyi adalah obsesiku. Aku ingin menjadi penyanyi terkenal layaknya ibuku. “Raihlah, bila itu keinginanmudenag usahamu sendiri. Tapi, ketahuilah itu semua bukanlah perjuangan dalam semalam.” Setidak nya itu pesan ibuku dulu. 
Kucoba buktikan perkataan beliau. Sejak SMP, menyanyi sudah menjadi hal ketiga yang paling sering kulakukan setelah belajar dan shalat. Ku akui, kudapatkan sesuatu yang baru disana. Juga tentang keyakinan ini. Keyakinan yang membuatku percaya jika aku akan mampu menjadi yang terbaik. Hingga kenyataan ini dengan kasar membentakku. Kenyataan yang baru kusadari setelah hari, minggu, bulan, bahkan dalam hitungan tahun terlewati. Saat kucoba untuk mewujudkan bagian dari impianku, ternyata cuna untuk turut serta dalam lomba Pentas Seni tahunan antar SMA saja aku tidak mampu. Pecundang!

Aku menggerutu dengan keras. Pasti ada yang salah. Ya, pasti. Akulah kesalahan itu. Aku yang tidak bisa mencapai nada tinggi yang variatif. Aku yang tak mampu memainkan nada dengan benar. Aku yang tidak….
Ahh, aku kehilangan rasa percaya diriku. Untuk yang kesekian kalinya.
Aku menerawang. Ini pasti karena kejadian saat itu. 2 tahun lalu, ketika aku seharusnya berlatih untuk hal seperti ini, walau sudah dilarang ayah karena keadaanku yang tidak fit. Ya, ku membantah nya. Sehingga aku mengalami kecelakaan, saat itu aku sedang menjalani hari yang indah, bersama sinar matahari senja yang membelah cakrawala, dikelilingi oleh dedaunan yang berguguran saat musim kemarau, seketika, aku diserempet oleh pengemudi tidak bertanggung jawab.
Alhasil, terjadi cedera di kepalaku. Cedera yang menyebabkan kerusakan saraf yang menuju ke laring. Ya, laring adalah tempat dimana pita suara berada. Pita suaraku mengalami kelumpuhan 2 sisi. Ini menyebabkanku sangat sulit untuk bernafas, bahkan berbicara.
Hal ini dapat disembuhkan, ayahku memilih pembedahan yang lebih kecil resiko nya. Pembedahan untuk memisahkan kedua pita suara secara permanen. Hasilnya, saluran udara terbuka lebar, dan aku dapat bernafas dengan normal, akan tetapi, kualitas suara menjadi buruk.

Tapi, ini tidak adil, tidak fair. Mengapa harus aku? Mengapa mesti aku yang diserempet? Bukan mereka? Entah darimana datangnya, tiba-tiba kurasakan kebencianku membuncah. Kebencian irasional. Aku mulai membenci diriku sendiri. “Tuhan tidak adil!” pekikku tertahan.

******

“Ayo ulang kembali, hari ini tidak terlalu buruk.” Komentar pelatih vokal ku.
Kembali kulanjutkan latihan ku, setidaknya, disini, tidak aka nada pembandingan dengan murid lain, karena murid disini, hanya aku. Satu-satunya.
“Kurasa hari ini cukup, bu.” Ucapku lelah, ku comot botol air minumku dan langsung meminumnya, layaknya rusa yang hampir mati dehidrasi.
“Nita, ada masalah? Tidak biasanya lemes begini?”
Aku tersentak. Masalah, batinku. Masalahnya adalah aku. Aku yang cacat. Sehingga suaraku tidak sebagus yang lain. Andai saja waktu itu aku mendengarkan saran ayah, pasti tidak seperti ini. Pasti aku bisa lolos seleksi, dan tidak menutup kemungkinan akan menyongsong piala kemenangan.
Lagi-lagi bayangan itu muncul kembali. Kebencian dan penyesalan menyeruak menutupi benak hingga yang tersisa Cuma rasa benci.
“Ibu perhatikan daritadi, latihan kamu tidak seperti biasanya, semakin kacau. Kenapa? Kamu sakit? Tangan lembut itu menyentuh pundakku.”
“Ah , tidak. Cuma…”
“Cuma apa?”

Aku mendesah, kembali kuraih catatan lirik lagu itu, dan pura-pura membacanya. Tempat latihanku hanya berjarak 2 blok dari rumah, hari ini sepi. Sesepi biasanya, tampak nya tidak ada yang tertarik pada tempat les vokal yang sudah 4 tahun dibuka ini. Bu Yati, dialah pendiri tempat les vokal yang gagal dan seharusnya bangkrut ini, dan tampaknya, wanita berumur 36 tahun ini sangat sayang kepada tempat les ini, dan kepadaku. Sehingga dia tidak ingin menutup nya. Akulah orang yang sangat dekat dengan nya, selain bibi nya, satu-satunya sanak yang tersisa di hidupnya.
Akhirnya meluncurlah semuanya dari mulutku. Kuceritakan tentang keinginan, perjuangan selama ini, juga tentang kegagalan itu. Kegagalan yang tidak semestinya ada. Karena kata gagal tak pernah aku jumpai di kamus hidupku.
Bu Yati menatapku lama sekali. Hingga membuatku jengah.
“Nita, mari keluar sebentar.” Katanya sembari membimbing tanganku menuju luar ruangan yang hening. Keheningan melingkupi hingga kebisuan menebarkan pesonanya di antara pucuk-pucuk padi hijau yang berayun tersapu angin didepan sana.
Kulirik sosok yang berdiri disebelahku. Rambut sebahunya berderai diterpa angin. Masih saja mata tajam itu terpaku menatap redup matahari, di ujung langit petang. Selalu mengagumkan, batinku. Bulatan besar berwarna merah di cakrawala dibayangi langit jingga dengan siluet awan keperakan. Distorsi warna biru kelabu berbaur jingga seperti menjadi harmoni pada langit senja.

“Nita, indahkah itu semua? Disini selalu ibu habiskan waktuku saat senja, menutup mata sembari mendengarkan nyanyian klasik dari masalalu. Ibu lakukan semenjak 5 tahun yang lalu.”
“Ya, bu, indah sekali. Maaf, mengapa ibu melakukan nya setiap hari?”
“Agar…” Bu Yati mulai ragu menjawabnya.
“Agar apa, bu?” Aku mulai penasaran.
“Agar ibu bisa merasakan bagaimana rasanya duduk bersama anak ibu, yang begitu mencintai senja, dan sangat suka bernyanyi, layaknya dirimu, Nita. Kau tahu? Yang ditelingaku ini?” Bu Yati menunjuk alat yang terpasang ditelinganya.
“Ya, ini baru ibu beli 5 tahun yang lalu, tepat setahun sebelum ibu membuka tempat les vokal ini. Tepat setelah ibu menemukan selembar surat yang ditulis anak ibu sebelum dia wafat. 
Kertas itu adalah daftar lagu yang sering sekali dia nyanyikan saat kami menatap senja, dia menulisnya  agar ibu dapat mendengarkan lagu-lagu yang dia nyanyikan, yang tak pernah ibu dengarkan sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan ibu. 
Dia juga menyarankan untuk membuka les vokal ini, agar ibu mendengarkan banyak bakat luar biasa selain suara anak ibu, yang ibu sendiri tidak dapat mendengarkan suara merdunya sebelum dia wafat, ibu menderita cacat pendengaran.” Ucapnya datar. Namun perkataannya membuatku terhenyak. Lidahku kelu hingga terasa sulit untuk kembali bersuara.
“Ca … ca.. cacat pendengaran.” Desisku.
Terbayang olehku menatap heningnya dunia tanpa suara. Hampa.

“Tapi ibu tidak marah atau merasa perlu meratapinya, yang ibu sesalkan adalah ibu tidak dapat mendengarkan suara anak ibu, yang begitu hobi menyanyi, dan tidak bisa menjaganya sehingga penyakit seperti yang kau derita, Nita, pita suaranya lumpuh, sehinggga dia tidak dapat bernafas, dan akhirnya hal itu merenggut nyawanya. Ibu bersyukur, ibu masih dikaruniai banyak keindahan. Termasuk yang ibu lakukan saat ini.”
Badanku tersentak. Kurasakan sesuatu menjalari tubuhku.
“Nita….” Ucapnya kemudian. Lirih.
“Seperti apapun hidup, syukurilah, Nita. Pahami dalam setiap rangkaiannya, pasti ada makna. Sebab tak ada yang sia-sia dalam hidup ibu, hidup mu, juga kehidupan ini.”

Perasaan aneh seperti menderu dalam relung jiwaku. Rasa berdosa seolah telah menamparku. Aku tertunduk lemah bak kehilangan tulang penyangga tubuh. Tiba-tiba, aku merasa sangat ingin menangis. Sangat ingin menumpahkan air mata penyesalan ini pada sebuah sujud panjang.
“Astaghfirullah….,” gumamku terpatah-patah. Terlalu lirih mungkin desahku, hingga seperti hilang tertelan desir angin petang.
>
Monday, September 17, 2012

Perbedaan

Kita, beda.


Beberapa waktu terakhir ini terngiang dikepalaku. Ketika aku terbaring sendirian, merenung. Merenungkan kejadian, peristiwa, bencana, tragedi yang terjadi karena perbedaan yang tidak diterima oleh begitu banyak pihak.
Tidak kah kalian bisa berpikir sedikit saja. Apa dengan memusnahkan sesuatu yang berbeda itu bisa menghilangkan perbedaan itu? Belum tentu !

Beberapa contoh kecil dimasa lalu, perbedaan budaya Indonesia yang menyebabkan perang saudara, politik apartheid di Afrika, kerusuhan di poso akibat perbedaan agama, dan masih banyak lagi.

Tidak kah kalian berpikir bahwa setelah semua yang terjadi, semua tetap kembali seperti semua. Apalagi mengingat bahwa Indonesia adalah rumah yang penuh dengan budaya dan agama. Ingatlah, Perbedaan itu tidak terhindarkan.

Bahkan dalam lingkup paling sederhana saja, dirumah, pasti ada perbedaan bukan? Bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut? Jika tidak ada toleransi didalam rumah kita, akan begitu banyak masalah bukan?
Ya, toleransi itu kebutuhan kita setiap hari. Eh, bukan, kapanpun dan dimanapun, itu dibutuhkan oleh kita semua.

Bayangkan jika kita tidak di ajarkan bagaimana mentolerir saat kecil dulu, pasti akan terlalu banyak kekerasan, akan banyak orang kehilangan pekerjaan karena 1 kesalahan, akan banyak siswa dikeluarkan dari sekolah karena hanya 1 kali melanggar peraturan. Dan masih banyak lagi hal negatif yang akan terjadi apabila kita tidak dididik dari kecil mengenai hal ini. Positif nya? Nothing.

Toleransi sudah diajarkan dari kita menginjak bangku SD, SMP, serta SMA dengan intensitas dan cara yang berbeda-beda. Jikalau di SD pelajaran toleransi ada dalam buku-buku pelajaran, maka di SMP atau SMA tak akan kita temui bab-bab toleransi, karena pada dasarnya kita diajarkan untuk bertoleransi dengan lebih banyak melakukan praktik bertoleransi dengan teman-teman sebaya kita. Jikalau ada konflik dengan teman sebaya, sang guru ikut menegur agar saling berbaikan dan memaafkan. Itu merupakan sebuah bentuk pendidikan toleransiyang diajarkan pada pendidikan formal. Saling mengakui bahwa masing-masing mempunyai kesalahan dalam pertikaian tersebut merupakan bentuk toleransi untuk meredam konflik antar individu.

Ingatkah kalian pada pelajaran IPS saat sd? Tentang politik Apartheid?

"Perdana Menteri Hendrik Verwoerd pada tahun 1950-an mulai mencanangkan sistem pemisahan di antara bangsa berkulit hitam, dan bangsa berkulit putih, yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1913 yaitu "Land Act" dimana para bangsa kulit hitam tidak boleh memiliki tanah semeter pun di luar batas "Homeland" mereka, yang sangat kotor dan tidak terawat."


Frederik Willem De Klerk adalah orang yang mengakhiri masa suram ini dengan pidato-pidatonya yang reformatif.
Tindakannya menarik balik pelarangan atas Kongres Nasional Afrika dan organisasi kulit hitam yang lain pada Februari 1990 merupakan titik permulaan perundingan yang menuju ke arah berakhirnya Apartheid dan administrasi minoritas kulit putih. Pada 10 Februari di tahun yang sama, de Klerk mengumumkan pembebasan Nelson Mandela pada hari yang berikutnya. De Klerk serta Mandela kemudian dianugerahi Hadiah Nobel bidang perdamaian pada 1993 atas usaha gigih mereka menamatkan rezim aparheid secara aman dan meletakkan asas yang kokoh bagi Afrika Selatan baru.

Tindakan de Klerk merupakan contoh nyata bahwa de Klerk memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan kulit di negaranya.


Frederik Willem De Klerk adalah Inspirasi.
Inspirasi Untuk Toleransi.
Friday, September 14, 2012

Untuk Kebahagiaan, Kebahagiaan Kamu :)

Sekretariat IPK, 14 September 2012

"Sudah 2 Tahun kita tidak lagi berbicara sebagaimana kita dulu. Kamu telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang memilih luar kota sebagai tempatmu meraih dan menimba ilmu. Apakah kau masih memiliki kepribadian yang dulu aku cintai? Ah entahlah, sungguh. Sepertinya kita semakin jauh. Dan kita telah lupa untuk saling mengingat, juga merasakan apa yang telah terjadi dulu."


Sejak awal, ketika aku mengenalmu  aku sudah merasakan hal aneh yang menggerayangi pikiranku. Saat itu umurku masih 15 tahun. Masih sangat awam dalam hal cinta. Aku mengenalmu sebagai kakak senior di ekstrakurikuler ku. Ya, dirimu yang begitu unik. Paling unik diantara semua kakak senior bahkan kakak kelas yang ku kenal.

Kamu menyukai warna abu-abu, tetapi lebih sering memakai warna putih dan warna hitam. Kamu seringkali berjalan didepanku, dan aku melihatmu berdecak kagum. dengan segala rasa aneh yang hinggap di hatiku. Inikah cinta? Apakah aku benar-benar merasakan nya? Atau hanya ingin merasakan nya saja? Entahlah. Aku hanya bocah yang tidak punya pengalaman tentang segala hal semacam itu.

Berminggu-minggu aku latihan dengan semangat. Ya, kamu lah yang menjadi titik penyemangat dalam diriku. Menjelma menjadi energizer dalam jiwaku. Hingga aku tidak merasakan bosan ataupun lelah. Inikah rasanya jika kita mencintai seseorang? Hanya dengan melihat senyum nya kita bisa menjadi bahagia?

Pernah saat latihan, entah sudah menit keberapa, aku tak ingin melepaskan pandangan ku dari senyum mu, lesung pipitmu, anggun nya langkahmu, dirimu. Langkahmu anggun, pelan tapi pasti. Terarah namun tak tergesa-gesa. Kamu pindah ke barisan belakang hanya untuk mengajak rekan mu bicara. Saat itulah saat pertama aku melihat senyum mu yang puitis melengkung sempurna, suara mu yang tinggi itu. Ah kau begitu indah.

Beberapa minggu berlalu, ekstrakurikuler pun selesai. Aku telah begitu dekat dengan mu, menjadi adik angkatmu, menjadi orang yang selalu mendengarkan curhat mu, dan kau telah berhasil memenangkan hatiku. Menjadi orang yang aku nomer 1 kan. Menjadi yang paling banyak mencuri perhatianku. Ya, kamu selalu begitu.

Ingatkah kau ketika sedang cekcok dengan guru bahasa Indonesia? Ketika kau melemparkan senyum yang tidak disertai matamu yang bahagia? Saat itu aku tahu bahwa kau ada masalah, dan akhirnya kau bercerita kepadaku. Ya, aku selalu berusaha untuk selalu berada disisimu ketika saat apapun itu. Maafkan aku, dulu aku hanya bocah yang tidak ingin melepaskan balon kesayangan nya. bahkan ketika aku tidur, balon itu aku ikatkan di tempat tidurku.

Tidak kah kau tahu? Kau lah penyebabnya mengapa aku merindukan bulan. Kau lah penyebab nya ketika aku mencintai warna abu abu. Kau lah penyebab nya aku mengahapuskan semua kosa kata negatif didalam otak ku.

"Kak, mau coklat?" Tanyaku kala malam itu.
"Mauu, anter sini yah"
Ingatkah kau ketika ku antarkan coklat malam itu? Sesungguhnya aku mengantarkan hal itu, karena ingin bertemu denganmu, hari itu aku tak melihatmu sedetik pun. Sungguh tak ada 1 hari pun yang ingin ku lewatkan tanpamu kala itu.

Sampai suatu ketika, saat aku masuk ruanguan OSIS, aku mendengarkan percakapan.
"Kapan ko?"
"Nanti malam lah."
"Dirumah gwd?"
"Iyo, tapi aku dak ado motor, kk jemputlah aku"
"Ah gilo be nak jemput kau, jauh gitu"
Begitulah kira-kira percakapan mereka, Kak Wawan dan Koko.
"Dengan aku be", jawab ku menyela, tanpa tahu arah percakapan ini kemana.
"Sepp" jawab koko singkat sembari beranjak dan kembali ke kelas nya.
Saat itu aku langsung menanyakan apa yang mereka rencanakan untuk malam itu, dan ternyata itu adalah mimpi buruk untuk ku. Ya, itu lah rencana koko untuk menyatakan cinta nya kepada kamu. Tiwi.
Tak sengaja aku mendaftarkan diriku untuk menyaksikan secara langsung kehancuran, kandas nya perjalanan cintaku. dan gagal atau berhasil nya si Koko, itu ada ditanganku.

Dirumah aku memikirkan apa yang harus aku lakukan. Aku tahu, bahwa kau memang menyukai Koko. Dan mungkin, dia akan menjadi kebahagiaan. Akhirnya aku memutuskan untuk membahagiakanmu, dan bergegas menjemput Koko dan mengentarkan nya ke tempat yang sudah dijanjikan.

Saat detik-detik sebelum kejadian itu, kejadian yang merubah segalanya. Perubahan yang membuat sekarang mejadi sangat kompleks.Saat itu, aku tak sanggup melihat kejadian itu secara langsung, di teras Gwd, kau telah duduk manis, semanis semua yang kau lakukan setiap hari. Aku memalingkan wajah ini, masuk kerumah Gwd, memandang ruang tamu. Fana.

"Udah ya?" Tanyaku keluar setelah mengusap airmata yang berlinang.
"Udah lah, ahh kau telat, Yop." Jawab kak Wawan.
Sesungguhnya bukan telat, aku memang sengaja tidak ingin menyaksikan itu. Terlalu pedih, menorehkan luka kepadaku, walau aku tidak menyaksikannya. Tapi aku tahu, bahwa itu pasti akan terjadi.

Berminggu minggu kemudian, yah aku tahu hal ini akan terjadi. Ketika sudah tidak lagi lajang, pasti ada beberapa peraturan baru dalam kehidupan pasangan yang sedang meramu cinta yang bergelora.
Kau berubah.

Akhirnya sampai pada saat untuk kita berpisah. Disaat aku harus mengutarakan semua yang aku rasakan. Lidahku kelu, kesedihan yang aku tahan pun terpecah menjadi airmata. Bukan hal yang biasa untuk seorang laki-laki. Tapi memang aku tidak sanggup kehilangan orang sepertimu. Kakak super unik dengan hidung yang mirip hidung rumah squidward. Pencinta bulan dan warna abu abu. Senyum simpul dan sifat childish, santai, dengan kebijakan wanita dewasa. Kau yang mengajarkanku banyak rasa. Dari rasa canggung, malu, membohongi perasaan sendiri, dan memendam.

Yah semua terasa begitu cepat, begitu indah, begitu menyakitkan pula. Semua aku lakukan untuk kebahagiaan mu, memang salahku sehingga kau berubah seperti itu. Tapi sungguh, semua itu aku lakukan demi kamu. Bukan demi kita. Jadi memang tidak ada salahnya kau melakukan perubahan seperti itu.

Aku masih ingat, ketika kita bercerita dibawah pohon pinus itu, bahkan waktu berlalu begitu cepat, 2 jam, dari jam 1 sampai jam 3 sore, tepat waktu untuk latihan. Saat aku membawakan mu minyak kayu putih sehingga dihukum karena keluar kelas. Saat aku terlalu nyaman berada didekatmu, sehingga terlalu larut malam pulang kerumah. Semua aku lakukan hanya untuk terus bersamamu. Dibalik ingatan yang ada, memang menyakitkan jika kita tak dapat mengingat semua yang kita inginkan.

Ya, sekarang aku tidak menyesalkan semua yang aku lakukan. Walau sekarang kau sudah tidak menganggap ku ada.
"Udah nonton perahu kertas? Nonton yuk!"
"Beluuum :( . Ayooo. Siapa ni? :p"
"Jangan marah tapi yah? Yopi"
"Oh."
"Iya, serius nih ngajakin?"
"Ga jadi deh makasi. Nonton sendiri aja."

Ingat pesan singkat itu? Saat pertama kamu excited sebelum tahu bahwa aku yang sms. Dan berubah ketika tahu bahwa itu aku. Mengapa kamu begitu? Entahlah.

Kini aku hanya bisa melihat senyum simpul mu. 
Menikmati kebahagiaanmu.
Melahap sedih mu.
Tak dapat membunuh perhatianku padamu.

Aku ingin berhenti.

Semua yang aku lakukan padamu, kekonyolanku, kecerobohanku, perhatianku, semua nya untukmu, cinta pertamaku.

Untuk Kebahagiaan, Kebahagiaan Kamu :)


With Love,
Yopi.

Friday, September 7, 2012

Teruntuk F, yang kucinta.



“When we are destined to break up, remember that I will be with you, and when you feel the warm breeze on your chin, it was me, giving you a kiss.”



F, aku sungguh tak mengira bahwa mencintaimu adalah hal yang tak bisa aku tepiskan 1 tahun ini. Cintaku kepadamu seperti  cintaku pada hujan. Ketika angin sejuk yang menghapus segala deru kegalauan di hatiku, hal seperti ini yang membuatku tak jemu mencintaimu, bahkan ketika angin menderu dibatinku.

Kau pun tahu F, bahwa aku begitu sendu ketika melihat kau memperlakukan orang yang kau cintai itu sebagaimana mestinya, walau tidak secara langsung ku lihat, tapi ya aku tahu itu. Sendu yang ku rasakan begitu dalam, bagaikan ribuan jarum yang menusuk tepat ke dada ini, aku tahu F, kau memang mencintainya, tapi bisakah kau melakukan itu tidak dengan mempublikasikan nya? Maafkan permintaan ku yang kekanak-kanak kan. Bahkan kini sendu itu kurasakan. Sendu karena tidak mendapat perlakuan yang sama dengan lelaki itu, tidak mendapat perhatian mu, bahkan setetes rindu mu. Aku tahu, F. kau memang tidak mencintaiku, mengenalku, bahkan mungkin tikda ingin mengenalku.
Entahlah F, aku pun tak tahu mengapa aku begitu rapuh akhir-akhir ini. Rapuh layaknya anak ayam yang kehilangan induk nya. Dan aku ingin menjadi orang yang menghargai keadaan, jarak, waktu, juga rindu. Beberapa bulan terakhir ini rindu seperti air dalam botol yang pecah di dalam hatiku, dan sepertinya tidak akan mengering. Entah itu hanya perasaan ku atau memang kenyataan. F, apakah kau juga merasakan keanehan yang aku rasakan sekarang?

Keanehan ini seperti udara Jambi yang begitu menyiksa F, dikala siang matahari begitu kejam memanggang, dan ketika udara malam pun dengan kejam nya menusuk ketubuh ini seperti rindu ku padamu. Maaf kali ini aku begitu melankolis, F. Aku yang memang belum bisa membahagiakanmu dengan apa yang aku miliki, kemarin, kini, bahkan esok. F, apakah kau kini sedang memikirkanku? Layaknya dirimu yang sering terlintas di kepalaku 1 tahun terakhir ini?

F, terkadang aku berpikir, apa yang sedang kau lakukan, bagaimana indah nya senyum mu, tawa mu, bahkan wajahmu yang mungkin bisa menyejukkan hatiku hari ini, dan kapanpun ketika aku melihat nya. F, apakah kau merindukan ku ? layaknya aku yang selalu merindukanmu?

Aku menyayangimu, F, dengan segenap tenaga yang ku punya. Kita berdua memang belum punya waktu  untuk selalu berdua, tapi memang cinta bukan hanya tentang bergumul dan berduaan, cinta adalah bagaimana kita memaknai hidup, bagaimana kita menciptakan ruang dimana kita selalu mendapatkan ketenangan juga senyuman dan tangisan, tapi bukan tangisan cengeng,  F, tangisan itu adalah tangisan kegembiraan kita. Karena kegembiraan tak harus melulu dirayakan dengan senyum, dengan pesta dan tetek bengek yang lainnya.

F, sungguh aku tak ingin menyakiti hatimu, meremuk redamkan semua perasaanmu. Kau yang begitu indah dan periang, kau yang diberi tuhan senyuman termanis dengan lesung pipimu. Jika memang tak sengaja aku menyayat hatimu, biarlah muka ini kau tampar sekeras-kerasnya, F, aku merelakannya dengan setulus hati.

F, aku menulis surat ini bersama secercah cahaya pagi yang hangat, begitu hangat nya sehingga membuat ku merinding karena kulit ku yang telah merasakan dingin selama lebih dari 8 jam. Aku berharap kau akan membaca nya 1 atau 2 paragraf saja, karena mungkin kau begitu tidak menyukai hal yang tidak penting, dan mungkin kau akan menganggap hal ini tidak penting. F, aku sangat ingin mengenalmu lebih jauh, entah karena apa, ada hal aneh dalam hati ini yang membuat ku yakin terhadap dirimu. Kau tahu, F? Terkadang pernah aku menangis. Aku menangis karena takut kehilanganmu, kehilangan sosok yang selama ini mengisi ruang kosong yang ada dalam batinku, kehilangan sosok yang selalu menyematkan semangat di setiap hariku. Rasa ini semakin nyata ketika kusadarai bahwa kau semakin ceria beberapa waktu terakhir. F, mengapa kau begitu berbeda ?

Aku mungkin kau tak ingin mengenalku, dan itu mungkin karena sikapku. Aku hanyalah lelaki yang masih sedikit mencecap cinta, F. Maka maafkanlah aku jika sikapku seperti seorang anak kecil yang masih memburu puting  ibunya. Aku hanya seorang pria malang yang selalu meratapi nasib tanpa ingin merubahnya F, kau tahu itu tentunya. Aku adalah seorang badut kecil yang terolok-olok oleh hidup, F. tahukah kau bagaimana keluargaku hampir hancur dan aku memberanikan diri untuk durhaka pada bapakku hanya karena aku tak mau melihat airmata dari seorang wanita yang telah melahirkanku.


F yang kucinta,

Bersama surat ini aku berharap Tuhan selalu memberimu semangat juga kesehatan bagimu, karena semangat dan kebahagiaanmu adalah sebuah surga dunia bagi seorang lelaki sial seperti aku, lelaki yang hanya berharap, lelaki yang terus mencaci diri sendiri.

F, maafkanlah aku, aku yang selalu memaafkan kesalahanmu tanpa kau meminta, yang selalu merindukanmu, yang selalu mengganggu mu dengan pesan singkatku setiap hari, yang selalu ingin ada di dekatmu,  yang telah mencintaimu sepenuh hati, yang ingin memilikimu, dan yang telah berharap banyak padamu. Aku hanya ingin kau menutup ruang kosong di batinku.

Tertanda, lelaki yang selalu mencintaimu.
M.A.

Monday, September 3, 2012

The Return of Me

Hello Blogger.
Setelah sekian lama nih gw vacuum cleaner, eh vakum dari blog, finally return nih buat solve beberapa masalah gw, dan buat ngelanjutin tugas buat lomba blog nih.
gw ngilang sesaat karena banyak hal yang lebih penting dari blog, mmaaf ya blog ku :* .

yah gw udah nyiapin beberapa hal hal yang emang sepertinya sepele, tapi buat gw juga agak sepele sih, tapi yah gw agak perhatian aja ama hal sepele -_-
yah intinya lagi pengen curhat aja ama blog gw yang masih setia menemani walaupun udah disakiti hati nya berkali kali .
and it's good to be back.

>