“When we are destined to break up, remember that I will be
with you, and when you feel the warm breeze on your chin, it was me, giving you
a kiss.”
F, aku sungguh tak mengira bahwa mencintaimu adalah hal yang
tak bisa aku tepiskan 1 tahun ini. Cintaku kepadamu seperti cintaku pada hujan. Ketika angin
sejuk yang menghapus segala deru kegalauan di hatiku, hal seperti ini yang
membuatku tak jemu mencintaimu, bahkan ketika angin menderu dibatinku.
Kau pun tahu F, bahwa aku begitu sendu ketika melihat kau
memperlakukan orang yang kau cintai itu sebagaimana mestinya, walau tidak secara langsung ku lihat, tapi ya aku tahu itu. Sendu yang ku
rasakan begitu dalam, bagaikan ribuan jarum yang menusuk tepat ke dada ini, aku
tahu F, kau memang mencintainya, tapi bisakah kau melakukan itu tidak dengan mempublikasikan nya? Maafkan permintaan ku yang kekanak-kanak kan. Bahkan kini sendu itu kurasakan. Sendu karena tidak mendapat perlakuan
yang sama dengan lelaki itu, tidak mendapat perhatian mu, bahkan setetes rindu
mu. Aku tahu, F. kau memang tidak mencintaiku, mengenalku, bahkan mungkin tikda ingin mengenalku.
Entahlah F, aku pun tak tahu mengapa aku begitu rapuh
akhir-akhir ini. Rapuh layaknya anak ayam yang kehilangan induk nya. Dan aku
ingin menjadi orang yang menghargai keadaan, jarak, waktu, juga rindu. Beberapa
bulan terakhir ini rindu seperti air dalam botol yang pecah di dalam hatiku,
dan sepertinya tidak akan mengering. Entah itu hanya perasaan ku atau memang
kenyataan. F, apakah kau juga merasakan keanehan yang aku rasakan sekarang?
Keanehan ini seperti udara Jambi yang begitu menyiksa F,
dikala siang matahari begitu kejam memanggang, dan ketika udara malam pun
dengan kejam nya menusuk ketubuh ini seperti rindu ku padamu. Maaf kali ini aku
begitu melankolis, F. Aku yang memang belum bisa membahagiakanmu dengan apa yang
aku miliki, kemarin, kini, bahkan esok. F, apakah kau kini sedang memikirkanku?
Layaknya dirimu yang sering terlintas di kepalaku 1 tahun terakhir ini?
F, terkadang aku berpikir, apa yang sedang kau lakukan,
bagaimana indah nya senyum mu, tawa mu, bahkan wajahmu yang mungkin bisa
menyejukkan hatiku hari ini, dan kapanpun ketika aku melihat nya. F, apakah kau
merindukan ku ? layaknya aku yang selalu merindukanmu?
Aku menyayangimu, F, dengan segenap tenaga yang ku punya.
Kita berdua memang belum punya waktu untuk selalu berdua, tapi
memang cinta bukan hanya tentang bergumul dan berduaan, cinta adalah bagaimana
kita memaknai hidup, bagaimana kita menciptakan ruang dimana kita selalu
mendapatkan ketenangan juga senyuman dan tangisan, tapi bukan tangisan
cengeng, F, tangisan itu adalah tangisan
kegembiraan kita. Karena kegembiraan tak harus melulu dirayakan dengan senyum,
dengan pesta dan tetek bengek yang lainnya.
F, sungguh aku tak ingin menyakiti hatimu, meremuk redamkan
semua perasaanmu. Kau yang begitu indah dan periang, kau yang diberi tuhan
senyuman termanis dengan lesung pipimu. Jika memang tak sengaja aku menyayat
hatimu, biarlah muka ini kau tampar sekeras-kerasnya, F, aku merelakannya
dengan setulus hati.
F, aku menulis surat ini bersama secercah cahaya pagi yang
hangat, begitu hangat nya sehingga membuat ku merinding karena kulit ku yang
telah merasakan dingin selama lebih dari 8 jam. Aku berharap kau akan membaca
nya 1 atau 2 paragraf saja, karena mungkin kau begitu tidak menyukai hal yang
tidak penting, dan mungkin kau akan menganggap hal ini tidak penting. F, aku sangat ingin mengenalmu lebih jauh, entah karena apa, ada hal aneh dalam hati ini yang membuat ku yakin terhadap dirimu. Kau tahu, F? Terkadang pernah aku menangis. Aku menangis karena takut
kehilanganmu, kehilangan sosok yang selama ini mengisi ruang kosong yang ada
dalam batinku, kehilangan sosok yang selalu menyematkan semangat di setiap
hariku. Rasa ini semakin nyata ketika kusadarai bahwa kau semakin ceria beberapa waktu terakhir. F, mengapa kau begitu berbeda ?
Aku mungkin kau tak ingin mengenalku, dan itu mungkin karena
sikapku. Aku hanyalah lelaki yang masih sedikit mencecap cinta, F. Maka maafkanlah
aku jika sikapku seperti seorang anak kecil yang masih memburu puting
ibunya. Aku hanya seorang pria malang yang selalu meratapi nasib tanpa
ingin merubahnya F, kau tahu itu tentunya. Aku adalah seorang badut kecil yang
terolok-olok oleh hidup, F. tahukah kau bagaimana keluargaku hampir hancur dan aku
memberanikan diri untuk durhaka pada bapakku hanya karena aku tak mau melihat
airmata dari seorang wanita yang telah melahirkanku.
F yang kucinta,
Bersama surat ini aku berharap Tuhan selalu memberimu
semangat juga kesehatan bagimu, karena semangat dan kebahagiaanmu adalah sebuah
surga dunia bagi seorang lelaki sial seperti aku, lelaki yang hanya berharap,
lelaki yang terus mencaci diri sendiri.
F, maafkanlah aku, aku yang selalu memaafkan kesalahanmu
tanpa kau meminta, yang selalu merindukanmu, yang selalu mengganggu mu dengan
pesan singkatku setiap hari, yang selalu ingin ada di dekatmu, yang telah mencintaimu sepenuh hati, yang
ingin memilikimu, dan yang telah berharap banyak padamu. Aku hanya ingin kau
menutup ruang kosong di batinku.
Tertanda, lelaki yang selalu mencintaimu.
M.A.


weeeew
ReplyDeletehaha ngapo wew, don?
ReplyDelete