Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Friday, September 7, 2012

Teruntuk F, yang kucinta.



“When we are destined to break up, remember that I will be with you, and when you feel the warm breeze on your chin, it was me, giving you a kiss.”



F, aku sungguh tak mengira bahwa mencintaimu adalah hal yang tak bisa aku tepiskan 1 tahun ini. Cintaku kepadamu seperti  cintaku pada hujan. Ketika angin sejuk yang menghapus segala deru kegalauan di hatiku, hal seperti ini yang membuatku tak jemu mencintaimu, bahkan ketika angin menderu dibatinku.

Kau pun tahu F, bahwa aku begitu sendu ketika melihat kau memperlakukan orang yang kau cintai itu sebagaimana mestinya, walau tidak secara langsung ku lihat, tapi ya aku tahu itu. Sendu yang ku rasakan begitu dalam, bagaikan ribuan jarum yang menusuk tepat ke dada ini, aku tahu F, kau memang mencintainya, tapi bisakah kau melakukan itu tidak dengan mempublikasikan nya? Maafkan permintaan ku yang kekanak-kanak kan. Bahkan kini sendu itu kurasakan. Sendu karena tidak mendapat perlakuan yang sama dengan lelaki itu, tidak mendapat perhatian mu, bahkan setetes rindu mu. Aku tahu, F. kau memang tidak mencintaiku, mengenalku, bahkan mungkin tikda ingin mengenalku.
Entahlah F, aku pun tak tahu mengapa aku begitu rapuh akhir-akhir ini. Rapuh layaknya anak ayam yang kehilangan induk nya. Dan aku ingin menjadi orang yang menghargai keadaan, jarak, waktu, juga rindu. Beberapa bulan terakhir ini rindu seperti air dalam botol yang pecah di dalam hatiku, dan sepertinya tidak akan mengering. Entah itu hanya perasaan ku atau memang kenyataan. F, apakah kau juga merasakan keanehan yang aku rasakan sekarang?

Keanehan ini seperti udara Jambi yang begitu menyiksa F, dikala siang matahari begitu kejam memanggang, dan ketika udara malam pun dengan kejam nya menusuk ketubuh ini seperti rindu ku padamu. Maaf kali ini aku begitu melankolis, F. Aku yang memang belum bisa membahagiakanmu dengan apa yang aku miliki, kemarin, kini, bahkan esok. F, apakah kau kini sedang memikirkanku? Layaknya dirimu yang sering terlintas di kepalaku 1 tahun terakhir ini?

F, terkadang aku berpikir, apa yang sedang kau lakukan, bagaimana indah nya senyum mu, tawa mu, bahkan wajahmu yang mungkin bisa menyejukkan hatiku hari ini, dan kapanpun ketika aku melihat nya. F, apakah kau merindukan ku ? layaknya aku yang selalu merindukanmu?

Aku menyayangimu, F, dengan segenap tenaga yang ku punya. Kita berdua memang belum punya waktu  untuk selalu berdua, tapi memang cinta bukan hanya tentang bergumul dan berduaan, cinta adalah bagaimana kita memaknai hidup, bagaimana kita menciptakan ruang dimana kita selalu mendapatkan ketenangan juga senyuman dan tangisan, tapi bukan tangisan cengeng,  F, tangisan itu adalah tangisan kegembiraan kita. Karena kegembiraan tak harus melulu dirayakan dengan senyum, dengan pesta dan tetek bengek yang lainnya.

F, sungguh aku tak ingin menyakiti hatimu, meremuk redamkan semua perasaanmu. Kau yang begitu indah dan periang, kau yang diberi tuhan senyuman termanis dengan lesung pipimu. Jika memang tak sengaja aku menyayat hatimu, biarlah muka ini kau tampar sekeras-kerasnya, F, aku merelakannya dengan setulus hati.

F, aku menulis surat ini bersama secercah cahaya pagi yang hangat, begitu hangat nya sehingga membuat ku merinding karena kulit ku yang telah merasakan dingin selama lebih dari 8 jam. Aku berharap kau akan membaca nya 1 atau 2 paragraf saja, karena mungkin kau begitu tidak menyukai hal yang tidak penting, dan mungkin kau akan menganggap hal ini tidak penting. F, aku sangat ingin mengenalmu lebih jauh, entah karena apa, ada hal aneh dalam hati ini yang membuat ku yakin terhadap dirimu. Kau tahu, F? Terkadang pernah aku menangis. Aku menangis karena takut kehilanganmu, kehilangan sosok yang selama ini mengisi ruang kosong yang ada dalam batinku, kehilangan sosok yang selalu menyematkan semangat di setiap hariku. Rasa ini semakin nyata ketika kusadarai bahwa kau semakin ceria beberapa waktu terakhir. F, mengapa kau begitu berbeda ?

Aku mungkin kau tak ingin mengenalku, dan itu mungkin karena sikapku. Aku hanyalah lelaki yang masih sedikit mencecap cinta, F. Maka maafkanlah aku jika sikapku seperti seorang anak kecil yang masih memburu puting  ibunya. Aku hanya seorang pria malang yang selalu meratapi nasib tanpa ingin merubahnya F, kau tahu itu tentunya. Aku adalah seorang badut kecil yang terolok-olok oleh hidup, F. tahukah kau bagaimana keluargaku hampir hancur dan aku memberanikan diri untuk durhaka pada bapakku hanya karena aku tak mau melihat airmata dari seorang wanita yang telah melahirkanku.


F yang kucinta,

Bersama surat ini aku berharap Tuhan selalu memberimu semangat juga kesehatan bagimu, karena semangat dan kebahagiaanmu adalah sebuah surga dunia bagi seorang lelaki sial seperti aku, lelaki yang hanya berharap, lelaki yang terus mencaci diri sendiri.

F, maafkanlah aku, aku yang selalu memaafkan kesalahanmu tanpa kau meminta, yang selalu merindukanmu, yang selalu mengganggu mu dengan pesan singkatku setiap hari, yang selalu ingin ada di dekatmu,  yang telah mencintaimu sepenuh hati, yang ingin memilikimu, dan yang telah berharap banyak padamu. Aku hanya ingin kau menutup ruang kosong di batinku.

Tertanda, lelaki yang selalu mencintaimu.
M.A.

2 komentar:

>