Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Monday, September 17, 2012

Perbedaan

Kita, beda.


Beberapa waktu terakhir ini terngiang dikepalaku. Ketika aku terbaring sendirian, merenung. Merenungkan kejadian, peristiwa, bencana, tragedi yang terjadi karena perbedaan yang tidak diterima oleh begitu banyak pihak.
Tidak kah kalian bisa berpikir sedikit saja. Apa dengan memusnahkan sesuatu yang berbeda itu bisa menghilangkan perbedaan itu? Belum tentu !

Beberapa contoh kecil dimasa lalu, perbedaan budaya Indonesia yang menyebabkan perang saudara, politik apartheid di Afrika, kerusuhan di poso akibat perbedaan agama, dan masih banyak lagi.

Tidak kah kalian berpikir bahwa setelah semua yang terjadi, semua tetap kembali seperti semua. Apalagi mengingat bahwa Indonesia adalah rumah yang penuh dengan budaya dan agama. Ingatlah, Perbedaan itu tidak terhindarkan.

Bahkan dalam lingkup paling sederhana saja, dirumah, pasti ada perbedaan bukan? Bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut? Jika tidak ada toleransi didalam rumah kita, akan begitu banyak masalah bukan?
Ya, toleransi itu kebutuhan kita setiap hari. Eh, bukan, kapanpun dan dimanapun, itu dibutuhkan oleh kita semua.

Bayangkan jika kita tidak di ajarkan bagaimana mentolerir saat kecil dulu, pasti akan terlalu banyak kekerasan, akan banyak orang kehilangan pekerjaan karena 1 kesalahan, akan banyak siswa dikeluarkan dari sekolah karena hanya 1 kali melanggar peraturan. Dan masih banyak lagi hal negatif yang akan terjadi apabila kita tidak dididik dari kecil mengenai hal ini. Positif nya? Nothing.

Toleransi sudah diajarkan dari kita menginjak bangku SD, SMP, serta SMA dengan intensitas dan cara yang berbeda-beda. Jikalau di SD pelajaran toleransi ada dalam buku-buku pelajaran, maka di SMP atau SMA tak akan kita temui bab-bab toleransi, karena pada dasarnya kita diajarkan untuk bertoleransi dengan lebih banyak melakukan praktik bertoleransi dengan teman-teman sebaya kita. Jikalau ada konflik dengan teman sebaya, sang guru ikut menegur agar saling berbaikan dan memaafkan. Itu merupakan sebuah bentuk pendidikan toleransiyang diajarkan pada pendidikan formal. Saling mengakui bahwa masing-masing mempunyai kesalahan dalam pertikaian tersebut merupakan bentuk toleransi untuk meredam konflik antar individu.

Ingatkah kalian pada pelajaran IPS saat sd? Tentang politik Apartheid?

"Perdana Menteri Hendrik Verwoerd pada tahun 1950-an mulai mencanangkan sistem pemisahan di antara bangsa berkulit hitam, dan bangsa berkulit putih, yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1913 yaitu "Land Act" dimana para bangsa kulit hitam tidak boleh memiliki tanah semeter pun di luar batas "Homeland" mereka, yang sangat kotor dan tidak terawat."


Frederik Willem De Klerk adalah orang yang mengakhiri masa suram ini dengan pidato-pidatonya yang reformatif.
Tindakannya menarik balik pelarangan atas Kongres Nasional Afrika dan organisasi kulit hitam yang lain pada Februari 1990 merupakan titik permulaan perundingan yang menuju ke arah berakhirnya Apartheid dan administrasi minoritas kulit putih. Pada 10 Februari di tahun yang sama, de Klerk mengumumkan pembebasan Nelson Mandela pada hari yang berikutnya. De Klerk serta Mandela kemudian dianugerahi Hadiah Nobel bidang perdamaian pada 1993 atas usaha gigih mereka menamatkan rezim aparheid secara aman dan meletakkan asas yang kokoh bagi Afrika Selatan baru.

Tindakan de Klerk merupakan contoh nyata bahwa de Klerk memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan kulit di negaranya.


Frederik Willem De Klerk adalah Inspirasi.
Inspirasi Untuk Toleransi.

2 komentar:

  1. Postingannya keren,,
    bagooss,,

    visit back, okee bray,, :D

    Cboxnya gimana tuuh??

    ReplyDelete
  2. haha, iyaa aku udah visit back, bro.

    cbox nya aku pake yang pop up -_-

    ReplyDelete

>