Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Monday, February 18, 2013

Mengapa Kamu Membuat Hal Sulit Ini Menjadi Begitu Indah? (Bagian 3)


“Kamu yakin jalan kesini nggak apa-apa, sayang?”

“Yakin dong sayang! Toh kota ini juga sangat luas, sangat kecil kemungkinan bahwa kita akan bertemu dengannya.” Pria itu menenangkan pacarnya, yang cemas akan bertemu seseorang yang pasti tidak akan senang melihat mereka berdua.
******
Saat sedang mengunjungi food court, samar-samar gadis bermata minus itu melihat seseorang yang tak asing. Melepas kacamatanya, membersihkan, dan memakainya lagi, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Orang itu berjalan bersama seorang gadis, bergandengan tangan. Sesekali bercanda riang, bahkan ditempat umum, pria itu mencium pipi gadis yang digandengnya. Masuk kedalam sebuah counter baju untuk Pria. Dan gadis disana tampak dengan riang memilihkan baju untuk pasangan nya. Tanpa pikir panjang, gadis bermata minus itu mengambil Handphone-nya, lantas mengirim sebuah pesan.

Sungguh pria itu tidak menyadari bahwa dirinya terlihat oleh orang yang tidak akan disangka-sangka. Ia masih sibuk memainkan gitar nafsu yang terus menagihnya untuk memetik. Terus saja, gitar itu terlalu menarik untuk tidak dimainkan, bakat nya terlalu bagus untuk menyia-nyiakan gitar itu.
******
 “Lama amat, telat mulu deh,” wajah Revi terlihat kusut menunggu gadis yang dicintainya itu, terlambat lagi. Seperti biasa.
“Heh, kan aku harus cari kacamata dulu, biar ga kalah lagi kayak kemarin!” Rindi melontarkan alibi, seperti biasa. Kemarin ia terlambat, dengan alasan sepatunya hilang sebelah. Sungguh tak masuk akal.

“Tapi, tunggu sebentar, kenapa mata kamu begitu? Habis nangis?” Sesaat setelah pertanyaan itu terlontar, terlihat genangan air muncul dibalik kacamata yang baru dikenakannya. Rindi berlari. Sungguh, ia masih tak sanggup untuk percaya apa yang ia lihat siang tadi, di mall. Terjadi baku tembak antara cinta dan gambaran yang terlintas tentang kejadian itu.

            To: Fahri
                                Pacar kamu cantik ya. Sungguh aku berharap kelanggengan akan hubungan kalian.
                                Aku mengerti kamu gak bisa tahan dengan hubungan jarak jauh ini.
                                Kamu gak perlu mikirin aku lagi. Aku akan mengakhiri perih ini.

Mungkin tadi setelah ia mengirim pesan tersebut, ia masih tahan. Dan keperihan itu belum terpecah menjadi isak tangis yang mengharukan. Kini ia tak lagi dapat membendung air matanya.

Ia melihat pria yang sangat dicintainya dengan tulus. Bersama gadis yang tak lain dak tak bukan adalah teman baiknya semasa SMA, yang memang dulu pernah mengatakan bahwa Fahri itu manis, sebelum Rindi berpacaran dengan Fahri. Tetapi itu tidak lagi penting, karena semua yang dipikirkannya adalah cinta nya yang telah pupus. Hatinya yang telah hancur. Tak lagi ia pedulikan semua yang ada didekatnya. Ia hanya ingin berlali sekencang-kencangnya. Melintasi batas emosi yang masih bisa dirasakannya sekarang.

Revi mengejar, tidak ingin sesuatu terjadi kepada gadis manis yang selalu hadir dimalam-malam insomnia nya. Gadis yang selalu menjadi semangat nya ketika pagi. Yang menjadi sumber ketenangan nya saat malam. Yang selalu menghiasi taman dihatinya. Yang tak ingin dilupakannya.

 Sesuatu membuat mata Revi membelalak. Melihat dua buah cahaya berjajar sedang bergerak cepat dari ujung jalan disebelah kiri. Hal yang tak pernah ia inginkan akan terjadi. Kini ia hanya berjarak setengah meter dari Rindi. Revi sungguh tak ingin ini terjadi. Akhirnya ia mengalah pada cinta yang dirasakannya, tak lagi memikirkan apapun selain menjaga rasa itu tetap ada, dan tetap nyata bersama Rindi dihadapannya. Perlahan Revi merasakan cahaya yang dilihatnya memudar, sesaat setelah ia mendorong Rindi dengan kasar keluar jalur jalan.

0 komentar:

Post a Comment

>