Weny, gadis berambut panjang. Mata yang hanya seperti coretan pena diatas kertas putih. Sipit. Membuatnya ingin tertawa bahagia melihat mata itu. Senyum nya sungguh mengesankan untuk Revi saat pertama melihatnya. Menusuk kedalam sukma. Tertanam didalam dada. Tumbuh menjadi cinta.
“Sayang, lihatlah bintang itu. Itu
adalah Ayahku. Dan setiap hari, ia berpesan, segala yang terbaik untukku.
Setiap malam, aku seakan lebih mengerti apa yang ia maksud dan katakan.
Sesungguhnya ia tidak berbicara. Tapi aku ingat akan apa pesan-pesannya dulu.
Ia pun berjanji akan menjaga bulan itu, ibuku.” Airmata
mengalir. Tak lagi ada pohon yang dapat mencegah erosi itu. Weny kembali,
merasuk kedalam memori.
Weny
merupakan pacar pertama dan terbaik bagi Revi. Meski kepergian nya hanya
meninggalkan sepucuk surat, 5 tahun yang lalu. Itu tidak cukup untuk membuat
Revi kehilangan keyakinan akan cinta pertamanya pada kelas 1 SMA. Dan kini
keyakinan itu perlahan pudar, semenjak Revi melihat Rindi.
Namun,
Weny tetap terjaga didalam sukma. Hadir di setiap malam dilangit. Sebagai bulan.
Dan Revi, selalu bercerita kepadanya, tentang segala hal yang terjadi padanya.
Semenjak kepergiannya karena penyakit yang telah kronis itu. Revi terpukul, dan
kali ini sungguh ajaib. Ia menemukan obat yang telah lama ia cari.
******
Terbangun
akan getar handphone yang menggelitik
telinga. Rindi meletakkan benda kesayangannya didekat telinga, agar dapat
mendengar suara alarm yang memang diatur untuk membangunkan mayat dari kubur.
Ia tidur bagaikan bangkai. Tanpa peduli siapa yang menelepon, ia langsung
mengangkatnya. Terdengar suara syahdu yang dirindukan nya dari seberang sana.
“Halo,
sayang? Maaf membangunkanmu subuh-subuh begini.”
“Oh, iya.” Rindi belum sepenuhnya sadar. Setengah dari jiwanya masih didalam
mimpi.
“Waktu kita akan bertemu ditaman, kamu kenapa nggak dateng?” Rindi telah menarik setengah jiwanya dari alam mimpi. Namun iblis masih bergantungan di kelopak matanya. Ia menelepon, dan terpejam.
“Maaf, sayang. Aku lagi banyak kerjaan.” Dari ujung telepon, Fahri, meminta maaf karena ia tidak datang menemui kekasih hatinya, seminggu yang lalu.
“Waktu kita akan bertemu ditaman, kamu kenapa nggak dateng?” Rindi telah menarik setengah jiwanya dari alam mimpi. Namun iblis masih bergantungan di kelopak matanya. Ia menelepon, dan terpejam.
“Maaf, sayang. Aku lagi banyak kerjaan.” Dari ujung telepon, Fahri, meminta maaf karena ia tidak datang menemui kekasih hatinya, seminggu yang lalu.
“Kamu
selalu saja begitu! Gak mikirin keadaan aku disini, ya kan?” Iblis yang
bergantungan itu terpental ke antah-berantah. Mata Rindi tak lagi terpejam.
Memandang serius ke langit-langit kamarnya. Menunggu alasan dari kekasihnya.
“Bukan begitu, sayang. Cobalah sedikit mengerti, aku disini memikirkanmu. Namun aku juga terhalang akan pekerjaan. Maafkan aku yang tak mampu menghubungimu, setidaknya aku sudah mengirim SMS kepadamu. Ya kan? Maaf lagi, semua sedang berjalan tak sesuai rencana.”
“Tapi apa salahnya memberi tahu saat hari kita akan bertemu? Kita ini hanya pasangan biasa yang tidak dapat melakukan telepati!” Rindi membentak. Dingin subuh itu membuatnya tak mampu marah lebih dari ini. Ia tak marah karena janjinya terbakar, ia hanya marah karena pria yang dikasihi nya itu tidak memberitakannya tepat waktu.
“Bukan begitu, sayang. Cobalah sedikit mengerti, aku disini memikirkanmu. Namun aku juga terhalang akan pekerjaan. Maafkan aku yang tak mampu menghubungimu, setidaknya aku sudah mengirim SMS kepadamu. Ya kan? Maaf lagi, semua sedang berjalan tak sesuai rencana.”
“Tapi apa salahnya memberi tahu saat hari kita akan bertemu? Kita ini hanya pasangan biasa yang tidak dapat melakukan telepati!” Rindi membentak. Dingin subuh itu membuatnya tak mampu marah lebih dari ini. Ia tak marah karena janjinya terbakar, ia hanya marah karena pria yang dikasihi nya itu tidak memberitakannya tepat waktu.
Namun,
Rindi memang sangat pengertian, pemaaf, dan tak sanggup untuk terus-menerus
marah terhadap sesuatu. “Sudahlah sayang, aku mengerti, aku sudah lama
memaafkanmu. Tapi kumohon, jangan lagi ulangi hal ini, di lain waktu.”
“Iya,
sayang. Aku janji. Dengan kesungguhan hati.” Percakapan itu terhenti. Kembali
tenggelam didalam kesunyian. Mereka pergi menuju rutinitas masing-masing.
Pukul
5 pagi. Tepat setelah shalat subuh, Rindi mengenakan pakaian olahraganya dan
memulai lari pagi. Seperti biasa. “Target hari ini, hmm. Ah empat putaran sudah cukup!” Tekad gadis
ini lumayan juga.
******
. Gadis itu, berlari menembus embun pagi
dengan gembira. Bersama siluet keemasan diufuk timur yang menggoda. Ah dia
tampak sempurna! Kembali, Revi membatin. Ia tampak menatap kearah langit
sesaat setelah menatap Rindi. Kelihatannya langit sudah mulai terang ketika
matahari telah menyongsong kehidupan pagi disana. Tatapan nya kosong, dan
harapan nya akan cinta mulai tertoreh dijiwa nya yang sebelum ini masih letih.
Letih akan kerinduan yang tiada terperi. Namun kini kerinduan sedikit terobati
karena pertemuan seminggu yang lalu. Pertemuan dengan Rindi.
“Heh, suka lari pagi juga ya?”
Suara Rindi merusak lamunan Revi.
“Lumayan, mau ditemenin lagi?”
“Boleh saja, alien.” Sahutnya langsung
tertawa. Melihat ekspresi wajah Revi saat diejek begitu, hatinya tergugah. Mata
yang damai seketika berubah seakan-akan
ada Lucifer didalam jiwanya. Sesaat, dan kembali menjadi seperti
semula. “Yuk mulai, kalo ketinggalan ga pake air mata ya, nangis
maksudnya.” Jawab Revi
membalas ejekan Rindi.
******
Waktu berlalu. Mereka yang
canggung tak lagi begitu. Kini canda tawa selalu mengiringi pagi mereka saat
berlari bersama. Terlihat bahagia. Sempurna. Dengan keadaan ini, kehidupan
mereka penuh suka cita. Pertemuan mereka tak lebih dari rencana untuk berteman.
Padahal, mereka melewatinya seakan lebih dari itu. Toko buku, pertunjukan
teater, bahkan makan malam dipinggir jalan. Entah bagaimana pria itu bisa
bertahan bersama debar yang menggebu-gebu didepan gadis yang dicintainya,
bertindak seakan ia tidak merasakan apapun terhadap Rindi. Berusaha menemani
dengan kesungguhan hati. Meskipun berkali-kali terbesit dalam pikirannya untuk
pergi meninggalkan gadis itu, gadis yang terlalu mencintai pacarnya di luar
sana.
Tekad ini sudah mantap. Salalu saja hal itu dikatakannya ketika ia
berpikir bahwa hal yang dilakukannya itu tidak akan berhasil. Bukan untukku. Tapi ini untuknya, demi
kebahagiaannya. Meskipun aku tidak akan hadir dihatinya, tapi ia hadir disini,
di hati ini. Setidaknya, mungkin, ia akan sadar bahwa aku tulus mencintainya,
dan aku akan hadir dihatinya sebagai orang yang pernah mencintainya.
Kini semua semakin nyata. Tak lagi fana, juga bukan fatamorgana.
Sungguh aku yakin akan apa yang kurasa. Cinta. Sambung pria itu.
******
“Ah yang itu lucu!” Rindi melompat
berteriak dengan jari yang mengarah ke boneka panda sebesar anak berumur 5
tahun itu. Revi hanya tersenyum, “Minta ama aa’ Fahri aja deh,” sambil
menjulurkan lidah nya dan mengedipkan mata sebelah kanan tanda mengejek Rindi.
“Ah pelit kamu, kan aku mau itu jadi pelengkap koleksi, dia kan diluar kota, jadinya
gak enak gitu.”
“Iya aku ngerti, lain kali
kalo ada rejeki, aku beli’in deh. Buat kamu.”
“Beneran? Haha terimakasih
Revi!”
“Biasa aja, ga pake teriak
dong!” Keluh Revi ketika hampir semua orang didekat mereka melihat gadis itu
meneriakkan namanya.
“
“
Berhubung pemerintah sadar
akan pentingnya taman, dan gak jadi ditutup, ntar malem ke taman, ya. Kita
ngitungin bintang lagi.”
“Kemaren kamu curang! Malam
ini aku yang menang.” Teriak Rindi galak.
“Kita lihat nanti saja. Jangan
sesumbar.”


0 komentar:
Post a Comment