Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Tuesday, February 12, 2013

Mengapa Kamu Membuat Hal Sulit Ini Menjadi Begitu Indah? (Bagian 1)




Sabtu, pukul lima sore. Seharusnya, pada waktu seperti ini, taman ini sudah ramai oleh orang-orang yang sedang berlumuran dengan cinta. Mulai dari orang tua, anak-anak mereka, dan pasangan yang dimabuk cinta. Setiap hari, canda tawa anak-anak kecil yang bermain disekeliling selalu menemani. Akan tetapi, entah mengapa kali ini begitu sepi, mungkinkah hal ini disebabkan oleh berita bahwa taman ini akan ditutup hari ini? Ya, pasti karena itu.
Rindi Zulia terlihat duduk dikursi panjang yang terletak dibawah pohon rindang, gadis manis bertubuh mungil dengan rambut sebahu, bermata coklat, dan berhidung mancung, ini berusia 19 tahun, namun secara fisik, gadis ini tidak terlihat seperti gadis Indonesia seusianya. Ia tampak lebih imut, dan lebih muda. Sekarang, ia melipat tangannya dengan rapat. Menahan dingin nya sore itu.
Awan kelabu mulai enggan memperlihatkan dirinya, tanda tak lagi ingin menumpahkan air dari atas sana. Matahari tampak dengan gagah membantu menghangatkan Rindi dengan sinar jingga nya ketika senja. Entah apa yang dilakukan gadis itu sesaat setelah hujan datang ke taman. Ia terlihat seperti berpikir tidak melakukan apapun selain mencibir.
Sesaat terlihat ia menekan-nekan tombol handphone-nya, seakan menunggu sesuatu yang akan datang. Menggeram ketika benda kecil yang manis itu seakan tidak peduli dengan tuannya yang berharap ia berbunyi, atau bergetar. Langit mulai menggelap, siluet senja tampil apik membuat semua menjadi unik. Rindi mendesah melihat jam tangan nya menjukkan pukul 6 sore. 1 jam ia menunggu tanpa mendapat hasil apapun.
“Ah kelihatan nya kau terhalang pekerjaan mu lagi.” Desis Rindi sambil mengetuk-ngetuk handphone-nya.
            “Kenapa kayak orang gila gitu? Ngomong sendiri?”
Rindi tersentak kaget melihat wajah yang tidak ia kenal didepan nya.
            “Kau siapa? Baru aja ketemu udah sok kenal.” Tanyanya ketus ketika melihat pria asing yang berdiri tepat didepan nya.
            “Haha, aku sudah lama memperhatikanmu duduk ditaman sendirian, mau kutemani? Aku Revi.” Jawabnya seraya tersenyum dan mengulurkan tangan nya.
Rindi terlihat ragu membalas ajakan pertemanan itu. Bagaimana jika dia ini penjahat yang hendak menculikku? Lirihnya dalam hati.
“Tenanglah, aku hanya orang yang tidak ingin membiarkanmu terluka karena perbuatanmu itu, menyendiri.” Jawabnya seolah tau pasti apa yang Rindi pikirkan.
Meskipun ragu, Rindi menyambut hangat tangan pria asing tersebut, “Aku Rindi.” Jawabnya singkat.

“Ngapain disini sendirian? Aku duduk disini ya? Boleh?” Tanya Revi sambil melemparkan senyumnya.
            “Sepertinya aku sedang butuh seorang teman, duduk aja, gapapa kok.”
            “Bagus!”
Sebenarnya Rindi sedikit kesal dengan pria ini akan tetapi, ia ingin lebih lama ditaman, dan pria ini bisa ia manfaatkan jadi satpam nya. Toh kalo macem-macem, tinggal kabur dan teriak aja. Pasti banyak yang liat. Rindi membatin.
Rindi terlihat menelusuri penampilan Revi. Sangat sederhana, memakai sweater, celana panjang, dan kaus . Rambut yang terlihat tidak rapi, sehingga agak aneh ketika diperhatikan. Jika saja dirapikan sedikit, pasti ganteng dan banyak cewek yang naksir! Batinnya.
Mereka berdua terdiam, tak satupun berani untuk memecahkan keheningan disana. Rindi mengutak-atik handphone-nya, melihat-lihat SMS yang ada disana.
 “Dasar bodoh!” Kata Rindi ketus. Ia masih kesal karena orang yang ditunggunya membuat ia menunggu layaknya orang dungu ditaman itu.
            “Kenapa? Tapi sepertinya benar.” Jawab Revi sambil memegang dagu nya dan mengangkat alis kanan nya seakan-akan berpikir. “Namun kau tak terlihat seperti orang bodoh, hanya terlalu banyak berharap, mungkin.” Tambahnya lagi.
Rindi terdiam, sambil menikmati angin petang, menatap langit yang sedang menata bulan dan bintang, membersihkan sisa-sisa awan yang sejak tadi menutupinya. Cuaca setelah hujan memang sangat menyenangkan. Malam ini indah, cemerlang, penuh akan cahaya yang terang.
Mereka berdua duduk terdiam, tampaknya kembali tak ada yang berani menghapuskan kesunyian yang sempurna malam itu. Diam-diam Rindi memperhatikan pria disebelahnya. Pria aneh yang terbungkam seakan tahu bahwa ia sedang tak ingin berbicara.
Pria yang berhidung mancung, dan berwajah oval itu seakan membuatnya betah berada disampingnya. Pria yang memiliki mata sendu, membawa kedamaian bagi yang melihatnya. Nyaris sempurna.
Senyap. Keduanya seakan tersedak memakan buah aneh yang bernama canggung. Dalam keadaan lengang, Revi menatap langit. Langit malam bertabur bintang, terhampar luas bagaikan kain hitam dengan taburan gula dan mangkuk berwarna keemasan terbalik di atasnya. Lama, Revi menatap ke atas. Matanya tertuju kepada rangkaian cahaya disana, bulan dan bintang. Sesekali ia tersenyum, melihat dengan binar mata yang unik, seakan menyampaikan sesuatu kepada hal yang dilihatnya.
Bagi Rindi yang tidak pernah mengagumi bulan dan bintang, memperhatikan hal asing seperti cara Revi memandangnya, Rindi mengerutkan keningnya.  
“Ada apa dengan caramu menatap mereka?” Tanya Rindi penasaran dengan cara Revi melihat bulan dan bintang. Seakan-akan 2 hal yang ada dilangit itu adalah hal-hal yang sangat sempurna.
            “Mereka? Bulan dan bintang?”
           “Iya.”
           “Mereka seakan berbicara dengan bahasa unik melalui cahayanya” Jawab Revi tenang. Ia begitu menikmati hal yang ditatapnya. Hatinya berdebar. Seakan teringat sesuatu.
“Ada gitu manusia yang ngomong ama bintang?” Rindi mencibir.
            “Dari tadi kamu menggerutu, bukankah lebih baik diceritakan saja sedang ada masalah apa?” Revi berusaha menjaga pembicaraan. Ia tak ingin mengingat sesuatu yang akan merusak mood nya malam ini.
            “Aku nungguin pacar dari tadi di sini, gak datang-datang. Malah ketemu kamu alien pencinta
bulan dan bintang! Liat bulan ama bintang kok kayak liat pacar, aneh!” Jawab Rindi kesal, dan langsung beranjak pergi tanpa memberikan isyarat apapun bahwa pertemuan mereka malam itu telah berakhir.
“Gadis aneh, misterius, kerjaannya ngoceh-ngoceh gak jelas dari tadi. Untung aja manis, jadi gue betah.” Lirih Revi, sambil mengikuti Rindi dari belakang.
******
Beberapa menit kemudian, Rindi sudah sampai di perumahan tempat ia tinggal, berjalan kaki dengan santai. Tanpa menghiraukan pria yang mengikuti nya, sebenarnya ia sadar bahwa ia sedang di ikuti, namun sesuatu seperti membuatnya membiarkan pria itu mengikutinya. Menghirup sejuknya udara malam yang menyelimuti dirinya. Dan akhirnya ia sampai didepan rumah yang sederhana dan minimalis, rumah nya.“Ah segarnya udara ini,” katanya tiba-tiba tersenyum.
“Akhirnya sampai juga, kalau begitu aku pulang.” Sebelum Rindi sempat berkata apapun, Revi telah membalikkan badan dan mengangkat tangan kanan nya, dan melebarkan telapak nya. “Alien macam apa ia itu?” Komentar Rindi sambil mengangkat bahu. Langsung masuk kerumah nya. “Aku pulang.” Dan seketika itu, berlari, melompat ke ranjang di kamar nya. Berusaha untuk tidur.
******
Malam ini sangat sempurna, sayang. Memang aku mencintaimu, kau selalu ada di dalam ruang kecil ini. Sukma ku. Namun, maafkan aku. Tak mungkin aku akan selalu berharap kepadamu yang telah tiada.Kali ini, aku akan melakukan persis yang kamu sampaikan kepadaku. Batin Revi ketika ia duduk sendiri. Menatap langit yang menampilkan bulan dan bintang . Hal yang sangat dicintainya, karena ia sudah terbiasa melihat nya hampir setiap malam bersama orang yang mengisi tempat terbaik didalam hatinya. Yang dulu tinggal disebelah rumahnya. Weny.

0 komentar:

Post a Comment

>