Rindi
Zulia terlihat duduk dikursi panjang yang terletak dibawah pohon rindang, gadis
manis bertubuh mungil dengan rambut sebahu, bermata coklat, dan berhidung
mancung, ini berusia 19 tahun, namun secara fisik, gadis ini tidak terlihat
seperti gadis Indonesia seusianya. Ia tampak lebih imut, dan lebih muda. Sekarang,
ia melipat tangannya dengan rapat. Menahan dingin nya sore itu.
Awan
kelabu mulai enggan memperlihatkan dirinya, tanda tak lagi ingin menumpahkan
air dari atas sana. Matahari tampak dengan gagah membantu menghangatkan Rindi
dengan sinar jingga nya ketika senja. Entah apa yang dilakukan gadis itu sesaat
setelah hujan datang ke taman. Ia terlihat seperti berpikir tidak melakukan
apapun selain mencibir.
Sesaat
terlihat ia menekan-nekan tombol handphone-nya,
seakan menunggu sesuatu yang akan datang. Menggeram ketika benda kecil yang manis itu seakan
tidak peduli dengan tuannya yang berharap ia berbunyi, atau bergetar. Langit
mulai menggelap, siluet senja tampil apik membuat semua menjadi unik. Rindi
mendesah melihat jam tangan nya
menjukkan pukul 6 sore. 1 jam ia menunggu tanpa mendapat hasil apapun.
“Ah
kelihatan nya kau terhalang pekerjaan mu lagi.” Desis Rindi sambil
mengetuk-ngetuk handphone-nya.
“Kenapa kayak orang gila gitu? Ngomong sendiri?”
“Kenapa kayak orang gila gitu? Ngomong sendiri?”
Rindi
tersentak kaget melihat wajah yang
tidak ia kenal didepan nya.
“Kau siapa? Baru aja ketemu udah sok kenal.” Tanyanya ketus ketika melihat pria asing yang berdiri tepat didepan nya.
“Haha, aku sudah lama memperhatikanmu duduk ditaman sendirian, mau kutemani? Aku Revi.” Jawabnya seraya tersenyum dan mengulurkan tangan nya.
Rindi terlihat ragu membalas ajakan pertemanan itu. Bagaimana jika dia ini penjahat yang hendak menculikku? Lirihnya dalam hati.
“Kau siapa? Baru aja ketemu udah sok kenal.” Tanyanya ketus ketika melihat pria asing yang berdiri tepat didepan nya.
“Haha, aku sudah lama memperhatikanmu duduk ditaman sendirian, mau kutemani? Aku Revi.” Jawabnya seraya tersenyum dan mengulurkan tangan nya.
Rindi terlihat ragu membalas ajakan pertemanan itu. Bagaimana jika dia ini penjahat yang hendak menculikku? Lirihnya dalam hati.
“Tenanglah,
aku hanya orang yang tidak ingin membiarkanmu terluka karena perbuatanmu itu,
menyendiri.” Jawabnya seolah tau pasti apa yang Rindi pikirkan.
Meskipun ragu, Rindi menyambut hangat tangan pria asing tersebut, “Aku Rindi.” Jawabnya singkat.
Meskipun ragu, Rindi menyambut hangat tangan pria asing tersebut, “Aku Rindi.” Jawabnya singkat.
“Ngapain
disini sendirian? Aku duduk disini ya? Boleh?” Tanya Revi sambil melemparkan
senyumnya.
“Sepertinya aku sedang butuh seorang teman, duduk aja, gapapa kok.”
“Bagus!”
“Sepertinya aku sedang butuh seorang teman, duduk aja, gapapa kok.”
“Bagus!”
Sebenarnya
Rindi sedikit kesal dengan pria ini akan tetapi, ia ingin lebih lama ditaman,
dan pria ini bisa ia manfaatkan jadi satpam nya. Toh kalo macem-macem, tinggal kabur dan teriak aja. Pasti banyak yang
liat. Rindi membatin.
Rindi
terlihat menelusuri penampilan Revi. Sangat sederhana, memakai sweater, celana
panjang, dan kaus . Rambut yang terlihat tidak rapi, sehingga agak aneh ketika
diperhatikan. Jika saja dirapikan
sedikit, pasti ganteng dan banyak cewek yang naksir! Batinnya.
Mereka
berdua terdiam, tak satupun berani untuk memecahkan keheningan disana. Rindi
mengutak-atik handphone-nya,
melihat-lihat SMS yang ada disana.
“Dasar bodoh!” Kata Rindi ketus. Ia masih
kesal karena orang yang ditunggunya membuat ia menunggu layaknya orang dungu
ditaman itu.
“Kenapa? Tapi sepertinya benar.” Jawab Revi sambil memegang dagu nya dan mengangkat alis kanan nya seakan-akan berpikir. “Namun kau tak terlihat seperti orang bodoh, hanya terlalu banyak berharap, mungkin.” Tambahnya lagi.
“Kenapa? Tapi sepertinya benar.” Jawab Revi sambil memegang dagu nya dan mengangkat alis kanan nya seakan-akan berpikir. “Namun kau tak terlihat seperti orang bodoh, hanya terlalu banyak berharap, mungkin.” Tambahnya lagi.
Rindi
terdiam, sambil menikmati angin petang, menatap langit yang sedang menata bulan
dan bintang, membersihkan sisa-sisa awan yang sejak tadi menutupinya. Cuaca
setelah hujan memang sangat menyenangkan. Malam ini indah, cemerlang, penuh
akan cahaya yang terang.
Mereka
berdua duduk terdiam, tampaknya kembali tak ada yang berani menghapuskan
kesunyian yang sempurna malam itu. Diam-diam Rindi memperhatikan pria disebelahnya.
Pria aneh yang terbungkam seakan tahu bahwa ia sedang tak ingin berbicara.
Pria
yang berhidung mancung, dan berwajah oval itu seakan membuatnya betah berada
disampingnya. Pria yang memiliki mata sendu, membawa kedamaian bagi yang
melihatnya. Nyaris sempurna.
Senyap.
Keduanya seakan tersedak memakan buah aneh yang bernama canggung. Dalam keadaan
lengang, Revi menatap
langit. Langit malam bertabur bintang, terhampar luas bagaikan kain hitam
dengan taburan gula dan mangkuk berwarna keemasan terbalik di atasnya. Lama,
Revi menatap ke atas. Matanya tertuju kepada rangkaian cahaya disana, bulan dan
bintang. Sesekali ia tersenyum, melihat dengan binar mata yang unik, seakan
menyampaikan sesuatu kepada hal yang dilihatnya.
Bagi
Rindi yang tidak pernah mengagumi bulan dan bintang, memperhatikan hal asing
seperti cara Revi memandangnya, Rindi mengerutkan keningnya.
“Ada
apa dengan caramu menatap mereka?” Tanya Rindi penasaran dengan cara Revi
melihat bulan dan bintang. Seakan-akan 2 hal yang ada dilangit itu adalah hal-hal
yang sangat sempurna.
“Mereka? Bulan dan bintang?”
“Iya.”
“Mereka seakan berbicara dengan bahasa unik melalui cahayanya” Jawab Revi tenang. Ia begitu menikmati hal yang ditatapnya. Hatinya berdebar. Seakan teringat sesuatu.
“Mereka? Bulan dan bintang?”
“Iya.”
“Mereka seakan berbicara dengan bahasa unik melalui cahayanya” Jawab Revi tenang. Ia begitu menikmati hal yang ditatapnya. Hatinya berdebar. Seakan teringat sesuatu.
“Ada
gitu manusia yang ngomong ama bintang?” Rindi mencibir.
“Dari tadi kamu menggerutu, bukankah lebih baik diceritakan saja sedang ada masalah apa?” Revi berusaha menjaga pembicaraan. Ia tak ingin mengingat sesuatu yang akan merusak mood nya malam ini.
“Aku nungguin pacar dari tadi di sini, gak datang-datang. Malah ketemu kamu alien pencinta bulan dan bintang! Liat bulan ama bintang kok kayak liat pacar, aneh!” Jawab Rindi kesal, dan langsung beranjak pergi tanpa memberikan isyarat apapun bahwa pertemuan mereka malam itu telah berakhir.
“Dari tadi kamu menggerutu, bukankah lebih baik diceritakan saja sedang ada masalah apa?” Revi berusaha menjaga pembicaraan. Ia tak ingin mengingat sesuatu yang akan merusak mood nya malam ini.
“Aku nungguin pacar dari tadi di sini, gak datang-datang. Malah ketemu kamu alien pencinta bulan dan bintang! Liat bulan ama bintang kok kayak liat pacar, aneh!” Jawab Rindi kesal, dan langsung beranjak pergi tanpa memberikan isyarat apapun bahwa pertemuan mereka malam itu telah berakhir.
“Gadis
aneh, misterius, kerjaannya ngoceh-ngoceh gak jelas dari tadi. Untung aja
manis, jadi gue
betah.” Lirih Revi, sambil mengikuti Rindi dari belakang.
******
Beberapa
menit kemudian, Rindi sudah sampai di perumahan tempat ia tinggal, berjalan
kaki dengan santai. Tanpa menghiraukan pria yang mengikuti nya, sebenarnya ia
sadar bahwa ia sedang di ikuti, namun sesuatu seperti membuatnya membiarkan
pria itu mengikutinya. Menghirup sejuknya udara malam yang menyelimuti dirinya.
Dan akhirnya ia sampai didepan rumah yang sederhana dan minimalis, rumah nya.“Ah
segarnya udara ini,” katanya tiba-tiba tersenyum.
“Akhirnya
sampai juga, kalau begitu aku pulang.” Sebelum Rindi sempat berkata apapun,
Revi telah membalikkan badan dan mengangkat tangan kanan nya, dan melebarkan
telapak nya. “Alien macam apa ia itu?” Komentar Rindi sambil mengangkat bahu.
Langsung masuk kerumah nya. “Aku pulang.” Dan seketika itu, berlari, melompat
ke ranjang di kamar nya. Berusaha untuk tidur.
******
Malam ini sangat sempurna, sayang. Memang aku
mencintaimu, kau selalu ada di dalam ruang kecil ini. Sukma ku. Namun, maafkan
aku. Tak mungkin aku akan selalu berharap kepadamu yang telah tiada.Kali ini, aku
akan melakukan persis yang kamu sampaikan kepadaku. Batin Revi ketika ia
duduk sendiri. Menatap langit yang menampilkan bulan dan bintang . Hal yang
sangat dicintainya, karena ia sudah terbiasa melihat nya hampir setiap malam
bersama orang yang mengisi tempat terbaik didalam hatinya. Yang dulu tinggal disebelah
rumahnya. Weny.


0 komentar:
Post a Comment