Copyright © Karya.
Design by Dzignine
Tuesday, February 26, 2013

Yang Aku Peduli.



Aku tidak peduli.
Caramu yang tidak memperdulikanku lagi, namun tetap tersenyum melihat tingkahku.
Seakan menolak pasti, namun tidak secara langsung.

Apa aku peduli?
Tentang segala ceritamu di kota seberang?
Tentang perubahan di dalam dan luar jiwamu?
Tentang lelaki impianmu?

Aku peduli.
Padamu.
>
Monday, February 25, 2013

Rencana Tentang Masa Lalu.



Hati ini terisi kembali. Memang cinta yang baru, namun bukan dengan menu yang baru. Menu lama, sisa perjuangan kita yang penuh liku dimasa lalu. Begitu komplikatif sehingga Kanvas yang kita toreh berdua telah robek karena keegoisanku untuk mengguratkannya disisi yang berbeda dengan yang kamu inginkan. Maaf, sesungguhnya bukan itu yang seharusnya aku lakukan.

Konon, masa lalu adalah tempat yang terlalu sakral untuk didatangi. Beberapa karena memang hal itu tidak terelakkan. Hanya saja dapat diubah dengan perilaku kita sendiri.

Beberapa bulan terakhir ini, terngiang dikepalaku akan bayangan masa lalu, sesuatu yang membuat hati ini menggebu-gebu.
Sebuah memori akan kenangan yang tak terlupakan. Yang kandas diakibatkan kejiwaan wajar seorang remaja.

Entah mengapa aku yang merindukan, padahal sesungguhnya akulah yang meruntuhkan? Mengapa rasa ini tiba ketika aku tak lagi bermakna dimatamu? Yang ku tahu, masa depanku adalah kamu. Namun kamu seakan menghempaskanku di masa lalu dan mengikatku disitu.

Sejujurnya, aku merindukan masa kita bersama. Masa dimana kita selalu beradu argumen akan segala hal, dan tertawa setelahnya. Masa ketika betapa setiap hari aku merindukan pipimu yang menggemaskan. Masa ketika aku disuguhkan segelas teh dingin dimalam hari. Masa ketika kita itu nyata.

Mungkin tahun ini lagu yang dilantunkan didalam hatiku selalu bertemakan tentang dirimu, karena memang, cinta dalam hidupku selalu bersemi satu kali dalam satu tahun. Aku harap kamu menyadari bahwa aku selalu memperhatikanmu, dan tidak melalui satu media saja. Setiap hari, beruntun, tanpa henti, selama satu tahun.
Ya mungkin kali ini akan berbeda dengan yang lainnya. Karena kamu selalu bersedia untuk bertemu denganku, meski kamu datang sebagai teman yang akrab denganku.

Inilah yang aku takutkan. Rasa cinta ini sungguh mengerikan. Aku dihadapkan kepada pilihan yang menyeramkan. Dan ketika aku gagal, aku akan kehilangan dua hal yang sangat berkesan. Teman baik, dan orang yang kucintai.

Maafkan kebodohanku dimasa lalu. Kebodohan yang membuatku membuang memori yang menyadarkanku tentang gelap dan terangnya kehidupan, membuang seseorang yang menjadi sandaran mimpi dan kenyataan.

Inilah ketulusanku untukmu.
Ketulusan cinta dalam seorang insan, dan kuharap akan membuat hati kita berdekatan.

Tujuanku sesungguhnya adalah untuk mempersiapkan hari esok, dan memperindah masa lampau.
Namun, tanpamu, keduanya akan hancur dan memaksaku membuat rencana yang baru.
Aku berharap takkan menjadi seperti itu.

With Love, Mayovi Ardian.
Thursday, February 21, 2013

Mengapa Kamu Membuat Hal Sulit Ini Menjadi Begitu Indah? (Ending)




Rindi merasa sangat gugup saat menghubungi keluarga Revi tadi. Sekarang mereka telah berada di ruangan yang berbau menusuk. Kursi yang dingin, dan dinding dengan cat serba putih. Rumah sakit. Terlihat wajah cemas Aini. Adik Revi bersama ibunya yang langsung datang kerumah sakit mendengar berita anak laki-lakinya itu ditabrak oleh mobil. Tidak begitu sial, ketika sang pengendara bertanggung jawab sepenuhnya, mulai dari membawa Rindi dan Revi kerumah sakit, hingga membiayai pengobatan.
Sementara Ibunda Revi berbicara dengan sang Pengendara yang menabrak Revi, Aini, terlihat memegang secarik kertas. Dan dengan berat hati diberikan nya kepada Rindi.
******

“Heh ngapain disini? Sana ah sana sana!”
             
 “Hayoo abang nulis apaan tuh? Wajanya sendu amat.” Aini memperolok abang tersayangnya.
             
 “Bukan apa-apa, kalo gak pake jahil berapa harganya mbok? Dibayar pake coklat mau?”
             
 “Gak mau, ingin lihat. Kasih clue dikit aja, bang? Wajah Aini memelas. Revi benar-benar tidak sanggup melihat wajah itu. Aini menang, tersenyum sinis ketika abangnya akan mengibarkan bendera putih ala Tom di serial Tom and Jerry. Tanda menyerah.
             
 “Ini surat cinta, tapi kayak dulu juga, bakalan diletakkan didalam kotak.”
             
 “Ciee abang. Ehem ehem. Buat siapa, bang?” Sambil mengedipkan mata kanan nya. Aini makin penasaran.
Revi menerawang. Teringat sosok yang sangat dicintainya sekarang. 
“Rindi.” Jawabnya mantap.
******

Dengan perasaan tak tentu arah. Bahagia, cemas, dan berbagai hal lain menumpuk dalam suatu wadah. Otak. Jika saja hal itu bisa diukur dalam kilogram, mungkin di otak Rindi, sudah menampung berpuluh-puluh kilogram perasaan yang bercampur-aduk. Harap-harap cemas menunggu pulihnya pria yang menyelamatkannya dari kecelakaan. Dan itu disebabkan oleh kebodohannya sendiri.

 Kemarahan bercampur kesedihan tidak pernah berakhir baik ketika tidak dikendalikan. Menyesal, ketika ia teringat hal tidak berguna yang ia lakukan. Berlari tanpa tujuan, mengarahkannya ke arah jalan.

Ditengah jalan, ia tak menyadari bahwa sesuatu akan mencederainya, bahkan mungkin membunuhnya. Revi yang tidak membiarkan itu terjadi, mengorbankan dirinya. Ia menyelamatkan pujaan hatinya. Agar orang lain dapat melihat senyum Rindi yang seperti virus itu. Menular, sehingga yang melihat senyumnya dengan mudah ikut tersenyum.  

Air mata Rindi mengalir tak terbendung, isak tangisnya lamat-lamat terdengar dikoridor rumah sakit. Duduk disebelah saudara perempuan Revi. Menggenggam secarik kertas yang dibawa Aini. Surat cinta yang tak pernah diberikan kepadanya.
******
Dear Rindi.
Sungguh sangat disayangkan mengapa aku harus mengenalmu 1 bulan yang lalu. Mengapa tidak 3 tahun yang lalu? Sebelum dia masuk kedalam kehidupanmu, mimpimu, pikiranmu, dan do'amu. Begitu klise ketika aku berharap begitu, dan kau? Kau mungkin hanya tertawa ketika tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapmu.

Meskipun kau telah memiliki seseorang yang mengisi hatimu, menorehkan senyum diwajahmu, itu tak cukup untuk membatasi perhatianku terhadapmu,perhatian yang terus mengalir, sehingga menimbulkan rasa rindu. Dan ketika itu juga, aku membutuhkanmu.
.Entah sudah untuk keberapa kalinya aku menghempaskan rasa ini. Rasa yang tidak seharusnya menggelayut dikepalaku. Merusak ingatanku, dan mengisinya dengan memori manis tentang dirimu, candamu, suaramu, bahkan senyum mu yang begitu menggoda. Rasa rindu terhadapmu sungguh tidak lazim kurasakan. Sungguh kau tak akan tahu berapa banyak rindu yang memukulku setiap waktu.
Aku hanya orang yang menyukai kesendirian, bukan kesepian, tetapi hal ini membuatku memiliki waktu yang banyak untuk memikirkan solusi bagi segala masalah yang harus kuhadapi sebagai anak laki-laki satu-satunya dirumah ini. Terkadang dalam kesendirian aku menulis hal bodoh seperti ini, membaca, bahkan berkomunikasi dengan bulan dan diriku sendiri.
Kali ini, aku begitu yakin akan cinta yang kumiliki. Kamu. Dan aku begitu percaya bahwa cinta itu bukan sekedar saling memiliki. Aku percaya bahwa cinta itu dikatakan sejati ketika aku senang membuatmu selalu bahagia, dan aku sedih melihatmu menangis. Maka dari itu, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu selalu bahagia. Menjaga senyum simpul yang menular itu tetap ada.
Hei gadis pencinta boneka,  aku sungguh berharap kau mengerti.
Aku hanya ingin menemani, bukan mengajakmu untuk pergi.
With Love, Revi.
******

Luka Revi tidak begitu parah. Hanya saja ia membutuhkan istirahat yang cukup banyak untuk memulihkan tulangnya yang patah akibat tidak dapat menghindari mobil yang menabraknya ketika ia berlari tadi.

Kembali, air mata Rindi mengalir ketika melihat wajah penyelamatnya yang membuat hatinya sejuk.

Rindi kini mengerti mengapa Revi selalu berusaha ada disaat ia membutuhkan teman. Selalu berhasil melukiskan rona diwajahnya, dan menorehkan senyum untuknya. Sesungguhnya, senyum Revi lah yang sangat kronis penularannya. Dan tak dipungkiri lagi, Rindi telah berjanji, untuk percaya kepada Tuhan, bahwa ketika Revi kembali, ia akan bersedia untuk berkarya bersamanya menggunakan tinta di atas kertas dengan satu tema terakhir; Kebahagiaan.

Rindi yang memakai sweater merah muda, celana jeans, dan sepatu kets itu berdiri didepan pintu kamar Revi, dirumah sakit itu. Tersenyum, memandang pemilik rindu, cinta, dan hatinya.

“Revi, mengapa kamu membuat keadaan sulit ini menjadi begitu indah?”
Monday, February 18, 2013

Mengapa Kamu Membuat Hal Sulit Ini Menjadi Begitu Indah? (Bagian 3)


“Kamu yakin jalan kesini nggak apa-apa, sayang?”

“Yakin dong sayang! Toh kota ini juga sangat luas, sangat kecil kemungkinan bahwa kita akan bertemu dengannya.” Pria itu menenangkan pacarnya, yang cemas akan bertemu seseorang yang pasti tidak akan senang melihat mereka berdua.
******
Saat sedang mengunjungi food court, samar-samar gadis bermata minus itu melihat seseorang yang tak asing. Melepas kacamatanya, membersihkan, dan memakainya lagi, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Orang itu berjalan bersama seorang gadis, bergandengan tangan. Sesekali bercanda riang, bahkan ditempat umum, pria itu mencium pipi gadis yang digandengnya. Masuk kedalam sebuah counter baju untuk Pria. Dan gadis disana tampak dengan riang memilihkan baju untuk pasangan nya. Tanpa pikir panjang, gadis bermata minus itu mengambil Handphone-nya, lantas mengirim sebuah pesan.

Sungguh pria itu tidak menyadari bahwa dirinya terlihat oleh orang yang tidak akan disangka-sangka. Ia masih sibuk memainkan gitar nafsu yang terus menagihnya untuk memetik. Terus saja, gitar itu terlalu menarik untuk tidak dimainkan, bakat nya terlalu bagus untuk menyia-nyiakan gitar itu.
******
 “Lama amat, telat mulu deh,” wajah Revi terlihat kusut menunggu gadis yang dicintainya itu, terlambat lagi. Seperti biasa.
“Heh, kan aku harus cari kacamata dulu, biar ga kalah lagi kayak kemarin!” Rindi melontarkan alibi, seperti biasa. Kemarin ia terlambat, dengan alasan sepatunya hilang sebelah. Sungguh tak masuk akal.

“Tapi, tunggu sebentar, kenapa mata kamu begitu? Habis nangis?” Sesaat setelah pertanyaan itu terlontar, terlihat genangan air muncul dibalik kacamata yang baru dikenakannya. Rindi berlari. Sungguh, ia masih tak sanggup untuk percaya apa yang ia lihat siang tadi, di mall. Terjadi baku tembak antara cinta dan gambaran yang terlintas tentang kejadian itu.

            To: Fahri
                                Pacar kamu cantik ya. Sungguh aku berharap kelanggengan akan hubungan kalian.
                                Aku mengerti kamu gak bisa tahan dengan hubungan jarak jauh ini.
                                Kamu gak perlu mikirin aku lagi. Aku akan mengakhiri perih ini.

Mungkin tadi setelah ia mengirim pesan tersebut, ia masih tahan. Dan keperihan itu belum terpecah menjadi isak tangis yang mengharukan. Kini ia tak lagi dapat membendung air matanya.

Ia melihat pria yang sangat dicintainya dengan tulus. Bersama gadis yang tak lain dak tak bukan adalah teman baiknya semasa SMA, yang memang dulu pernah mengatakan bahwa Fahri itu manis, sebelum Rindi berpacaran dengan Fahri. Tetapi itu tidak lagi penting, karena semua yang dipikirkannya adalah cinta nya yang telah pupus. Hatinya yang telah hancur. Tak lagi ia pedulikan semua yang ada didekatnya. Ia hanya ingin berlali sekencang-kencangnya. Melintasi batas emosi yang masih bisa dirasakannya sekarang.

Revi mengejar, tidak ingin sesuatu terjadi kepada gadis manis yang selalu hadir dimalam-malam insomnia nya. Gadis yang selalu menjadi semangat nya ketika pagi. Yang menjadi sumber ketenangan nya saat malam. Yang selalu menghiasi taman dihatinya. Yang tak ingin dilupakannya.

 Sesuatu membuat mata Revi membelalak. Melihat dua buah cahaya berjajar sedang bergerak cepat dari ujung jalan disebelah kiri. Hal yang tak pernah ia inginkan akan terjadi. Kini ia hanya berjarak setengah meter dari Rindi. Revi sungguh tak ingin ini terjadi. Akhirnya ia mengalah pada cinta yang dirasakannya, tak lagi memikirkan apapun selain menjaga rasa itu tetap ada, dan tetap nyata bersama Rindi dihadapannya. Perlahan Revi merasakan cahaya yang dilihatnya memudar, sesaat setelah ia mendorong Rindi dengan kasar keluar jalur jalan.
Friday, February 15, 2013

Mengapa Kamu Membuat Hal Sulit Ini Menjadi Begitu Indah? (Bagian 2)




Weny, gadis berambut panjang. Mata yang hanya seperti coretan pena diatas kertas putih. Sipit. Membuatnya ingin tertawa bahagia melihat mata itu. Senyum nya sungguh mengesankan untuk Revi saat pertama melihatnya. Menusuk kedalam sukma. Tertanam didalam dada. Tumbuh menjadi cinta.

“Sayang, lihatlah bintang itu. Itu adalah Ayahku. Dan setiap hari, ia berpesan, segala yang terbaik untukku. Setiap malam, aku seakan lebih mengerti apa yang ia maksud dan katakan. Sesungguhnya ia tidak berbicara. Tapi aku ingat akan apa pesan-pesannya dulu. Ia pun berjanji akan menjaga bulan itu, ibuku.” Airmata mengalir. Tak lagi ada pohon yang dapat mencegah erosi itu. Weny kembali, merasuk kedalam memori.

Weny merupakan pacar pertama dan terbaik bagi Revi. Meski kepergian nya hanya meninggalkan sepucuk surat, 5 tahun yang lalu. Itu tidak cukup untuk membuat Revi kehilangan keyakinan akan cinta pertamanya pada kelas 1 SMA. Dan kini keyakinan itu perlahan pudar, semenjak Revi melihat Rindi.

Namun, Weny tetap terjaga didalam sukma. Hadir di setiap malam dilangit. Sebagai bulan. Dan Revi, selalu bercerita kepadanya, tentang segala hal yang terjadi padanya. Semenjak kepergiannya karena penyakit yang telah kronis itu. Revi terpukul, dan kali ini sungguh ajaib. Ia menemukan obat yang telah lama ia cari.
******
Terbangun akan getar handphone yang menggelitik telinga. Rindi meletakkan benda kesayangannya didekat telinga, agar dapat mendengar suara alarm yang memang diatur untuk membangunkan mayat dari kubur. Ia tidur bagaikan bangkai. Tanpa peduli siapa yang menelepon, ia langsung mengangkatnya. Terdengar suara syahdu yang dirindukan nya dari seberang sana.

“Halo, sayang? Maaf membangunkanmu subuh-subuh begini.”
 
“Oh, iya.” Rindi belum sepenuhnya sadar. Setengah dari jiwanya masih didalam mimpi.
“Waktu kita akan bertemu ditaman, kamu kenapa nggak dateng?” Rindi telah menarik setengah jiwanya dari alam mimpi. Namun iblis masih bergantungan di kelopak matanya. Ia menelepon, dan terpejam.
“Maaf, sayang. Aku lagi banyak kerjaan.” Dari ujung telepon, Fahri, meminta maaf karena ia tidak datang menemui kekasih hatinya, seminggu yang lalu.
“Kamu selalu saja begitu! Gak mikirin keadaan aku disini, ya kan?” Iblis yang bergantungan itu terpental ke antah-berantah. Mata Rindi tak lagi terpejam. Memandang serius ke langit-langit kamarnya. Menunggu alasan dari kekasihnya.
            “Bukan begitu, sayang. Cobalah sedikit mengerti, aku disini memikirkanmu. Namun aku juga terhalang akan pekerjaan. Maafkan aku yang tak mampu menghubungimu
, setidaknya aku sudah mengirim SMS kepadamu. Ya kan? Maaf lagi,  semua sedang berjalan tak sesuai rencana.”
            “Tapi apa salahnya memberi tahu
saat hari kita akan bertemu? Kita ini hanya pasangan biasa yang tidak dapat melakukan telepati!” Rindi membentak. Dingin subuh itu membuatnya tak mampu marah lebih dari ini. Ia tak marah karena janjinya terbakar, ia hanya marah karena pria yang dikasihi nya itu tidak memberitakannya tepat waktu.
Namun, Rindi memang sangat pengertian, pemaaf, dan tak sanggup untuk terus-menerus marah terhadap sesuatu. “Sudahlah sayang, aku mengerti, aku sudah lama memaafkanmu. Tapi kumohon, jangan lagi ulangi hal ini, di lain waktu.” 
“Iya, sayang. Aku janji. Dengan kesungguhan hati.” Percakapan itu terhenti. Kembali tenggelam didalam kesunyian. Mereka pergi menuju rutinitas masing-masing.
Pukul 5 pagi. Tepat setelah shalat subuh, Rindi mengenakan pakaian olahraganya dan memulai lari pagi. Seperti biasa. “Target hari ini, hmm. Ah empat putaran sudah cukup!” Tekad gadis ini lumayan juga.
******
.           Gadis itu, berlari menembus embun pagi dengan gembira. Bersama siluet keemasan diufuk timur yang menggoda. Ah dia tampak sempurna! Kembali, Revi membatin. Ia tampak menatap kearah langit sesaat setelah menatap Rindi. Kelihatannya langit sudah mulai terang ketika matahari telah menyongsong kehidupan pagi disana. Tatapan nya kosong, dan harapan nya akan cinta mulai tertoreh dijiwa nya yang sebelum ini masih letih. Letih akan kerinduan yang tiada terperi. Namun kini kerinduan sedikit terobati karena pertemuan seminggu yang lalu. Pertemuan dengan Rindi.

“Heh, suka lari pagi juga ya?” Suara Rindi merusak lamunan Revi.
             
 “Lumayan, mau ditemenin lagi?”
             
 “Boleh saja, alien.” Sahutnya langsung tertawa. Melihat ekspresi wajah Revi saat diejek begitu, hatinya tergugah. Mata yang damai seketika berubah seakan-akan ada Lucifer didalam jiwanya. Sesaat, dan kembali menjadi seperti semula. “Yuk mulai, kalo ketinggalan ga pake air mata ya, nangis maksudnya.” Jawab Revi membalas ejekan Rindi.
******
Waktu berlalu. Mereka yang canggung tak lagi begitu. Kini canda tawa selalu mengiringi pagi mereka saat berlari bersama. Terlihat bahagia. Sempurna. Dengan keadaan ini, kehidupan mereka penuh suka cita. Pertemuan mereka tak lebih dari rencana untuk berteman. Padahal, mereka melewatinya seakan lebih dari itu. Toko buku, pertunjukan teater, bahkan makan malam dipinggir jalan. Entah bagaimana pria itu bisa bertahan bersama debar yang menggebu-gebu didepan gadis yang dicintainya, bertindak seakan ia tidak merasakan apapun terhadap Rindi. Berusaha menemani dengan kesungguhan hati. Meskipun berkali-kali terbesit dalam pikirannya untuk pergi meninggalkan gadis itu, gadis yang terlalu mencintai pacarnya di luar sana.
Tekad ini sudah mantap. Salalu saja hal itu dikatakannya ketika ia berpikir bahwa hal yang dilakukannya itu tidak akan berhasil. Bukan untukku. Tapi ini untuknya, demi kebahagiaannya. Meskipun aku tidak akan hadir dihatinya, tapi ia hadir disini, di hati ini. Setidaknya, mungkin, ia akan sadar bahwa aku tulus mencintainya, dan aku akan hadir dihatinya sebagai orang yang pernah mencintainya.
Kini semua semakin nyata. Tak lagi fana, juga bukan fatamorgana. Sungguh aku yakin akan apa yang kurasa. Cinta. Sambung pria itu.
******
“Ah yang itu lucu!” Rindi melompat berteriak dengan jari yang mengarah ke boneka panda sebesar anak berumur 5 tahun itu. Revi hanya tersenyum, “Minta ama aa’ Fahri aja deh,” sambil menjulurkan lidah nya dan mengedipkan mata sebelah kanan tanda mengejek Rindi. “Ah pelit kamu, kan aku mau itu jadi pelengkap koleksi, dia kan diluar kota, jadinya gak enak gitu.”
             
“Iya aku ngerti, lain kali kalo ada rejeki, aku beli’in deh. Buat kamu.”
             
“Beneran? Haha terimakasih Revi!”
             
“Biasa aja, ga pake teriak dong!” Keluh Revi ketika hampir semua orang didekat mereka melihat gadis itu meneriakkan namanya.
          
Berhubung pemerintah sadar akan pentingnya taman, dan gak jadi ditutup, ntar malem ke taman, ya. Kita ngitungin bintang lagi.”
             
“Kemaren kamu curang! Malam ini aku yang menang.” Teriak Rindi galak.
             
“Kita lihat nanti saja. Jangan sesumbar.”
>
Tuesday, February 12, 2013

Mengapa Kamu Membuat Hal Sulit Ini Menjadi Begitu Indah? (Bagian 1)




Sabtu, pukul lima sore. Seharusnya, pada waktu seperti ini, taman ini sudah ramai oleh orang-orang yang sedang berlumuran dengan cinta. Mulai dari orang tua, anak-anak mereka, dan pasangan yang dimabuk cinta. Setiap hari, canda tawa anak-anak kecil yang bermain disekeliling selalu menemani. Akan tetapi, entah mengapa kali ini begitu sepi, mungkinkah hal ini disebabkan oleh berita bahwa taman ini akan ditutup hari ini? Ya, pasti karena itu.
Rindi Zulia terlihat duduk dikursi panjang yang terletak dibawah pohon rindang, gadis manis bertubuh mungil dengan rambut sebahu, bermata coklat, dan berhidung mancung, ini berusia 19 tahun, namun secara fisik, gadis ini tidak terlihat seperti gadis Indonesia seusianya. Ia tampak lebih imut, dan lebih muda. Sekarang, ia melipat tangannya dengan rapat. Menahan dingin nya sore itu.
Awan kelabu mulai enggan memperlihatkan dirinya, tanda tak lagi ingin menumpahkan air dari atas sana. Matahari tampak dengan gagah membantu menghangatkan Rindi dengan sinar jingga nya ketika senja. Entah apa yang dilakukan gadis itu sesaat setelah hujan datang ke taman. Ia terlihat seperti berpikir tidak melakukan apapun selain mencibir.
Sesaat terlihat ia menekan-nekan tombol handphone-nya, seakan menunggu sesuatu yang akan datang. Menggeram ketika benda kecil yang manis itu seakan tidak peduli dengan tuannya yang berharap ia berbunyi, atau bergetar. Langit mulai menggelap, siluet senja tampil apik membuat semua menjadi unik. Rindi mendesah melihat jam tangan nya menjukkan pukul 6 sore. 1 jam ia menunggu tanpa mendapat hasil apapun.
“Ah kelihatan nya kau terhalang pekerjaan mu lagi.” Desis Rindi sambil mengetuk-ngetuk handphone-nya.
            “Kenapa kayak orang gila gitu? Ngomong sendiri?”
Rindi tersentak kaget melihat wajah yang tidak ia kenal didepan nya.
            “Kau siapa? Baru aja ketemu udah sok kenal.” Tanyanya ketus ketika melihat pria asing yang berdiri tepat didepan nya.
            “Haha, aku sudah lama memperhatikanmu duduk ditaman sendirian, mau kutemani? Aku Revi.” Jawabnya seraya tersenyum dan mengulurkan tangan nya.
Rindi terlihat ragu membalas ajakan pertemanan itu. Bagaimana jika dia ini penjahat yang hendak menculikku? Lirihnya dalam hati.
“Tenanglah, aku hanya orang yang tidak ingin membiarkanmu terluka karena perbuatanmu itu, menyendiri.” Jawabnya seolah tau pasti apa yang Rindi pikirkan.
Meskipun ragu, Rindi menyambut hangat tangan pria asing tersebut, “Aku Rindi.” Jawabnya singkat.

“Ngapain disini sendirian? Aku duduk disini ya? Boleh?” Tanya Revi sambil melemparkan senyumnya.
            “Sepertinya aku sedang butuh seorang teman, duduk aja, gapapa kok.”
            “Bagus!”
Sebenarnya Rindi sedikit kesal dengan pria ini akan tetapi, ia ingin lebih lama ditaman, dan pria ini bisa ia manfaatkan jadi satpam nya. Toh kalo macem-macem, tinggal kabur dan teriak aja. Pasti banyak yang liat. Rindi membatin.
Rindi terlihat menelusuri penampilan Revi. Sangat sederhana, memakai sweater, celana panjang, dan kaus . Rambut yang terlihat tidak rapi, sehingga agak aneh ketika diperhatikan. Jika saja dirapikan sedikit, pasti ganteng dan banyak cewek yang naksir! Batinnya.
Mereka berdua terdiam, tak satupun berani untuk memecahkan keheningan disana. Rindi mengutak-atik handphone-nya, melihat-lihat SMS yang ada disana.
 “Dasar bodoh!” Kata Rindi ketus. Ia masih kesal karena orang yang ditunggunya membuat ia menunggu layaknya orang dungu ditaman itu.
            “Kenapa? Tapi sepertinya benar.” Jawab Revi sambil memegang dagu nya dan mengangkat alis kanan nya seakan-akan berpikir. “Namun kau tak terlihat seperti orang bodoh, hanya terlalu banyak berharap, mungkin.” Tambahnya lagi.
Rindi terdiam, sambil menikmati angin petang, menatap langit yang sedang menata bulan dan bintang, membersihkan sisa-sisa awan yang sejak tadi menutupinya. Cuaca setelah hujan memang sangat menyenangkan. Malam ini indah, cemerlang, penuh akan cahaya yang terang.
Mereka berdua duduk terdiam, tampaknya kembali tak ada yang berani menghapuskan kesunyian yang sempurna malam itu. Diam-diam Rindi memperhatikan pria disebelahnya. Pria aneh yang terbungkam seakan tahu bahwa ia sedang tak ingin berbicara.
Pria yang berhidung mancung, dan berwajah oval itu seakan membuatnya betah berada disampingnya. Pria yang memiliki mata sendu, membawa kedamaian bagi yang melihatnya. Nyaris sempurna.
Senyap. Keduanya seakan tersedak memakan buah aneh yang bernama canggung. Dalam keadaan lengang, Revi menatap langit. Langit malam bertabur bintang, terhampar luas bagaikan kain hitam dengan taburan gula dan mangkuk berwarna keemasan terbalik di atasnya. Lama, Revi menatap ke atas. Matanya tertuju kepada rangkaian cahaya disana, bulan dan bintang. Sesekali ia tersenyum, melihat dengan binar mata yang unik, seakan menyampaikan sesuatu kepada hal yang dilihatnya.
Bagi Rindi yang tidak pernah mengagumi bulan dan bintang, memperhatikan hal asing seperti cara Revi memandangnya, Rindi mengerutkan keningnya.  
“Ada apa dengan caramu menatap mereka?” Tanya Rindi penasaran dengan cara Revi melihat bulan dan bintang. Seakan-akan 2 hal yang ada dilangit itu adalah hal-hal yang sangat sempurna.
            “Mereka? Bulan dan bintang?”
           “Iya.”
           “Mereka seakan berbicara dengan bahasa unik melalui cahayanya” Jawab Revi tenang. Ia begitu menikmati hal yang ditatapnya. Hatinya berdebar. Seakan teringat sesuatu.
“Ada gitu manusia yang ngomong ama bintang?” Rindi mencibir.
            “Dari tadi kamu menggerutu, bukankah lebih baik diceritakan saja sedang ada masalah apa?” Revi berusaha menjaga pembicaraan. Ia tak ingin mengingat sesuatu yang akan merusak mood nya malam ini.
            “Aku nungguin pacar dari tadi di sini, gak datang-datang. Malah ketemu kamu alien pencinta
bulan dan bintang! Liat bulan ama bintang kok kayak liat pacar, aneh!” Jawab Rindi kesal, dan langsung beranjak pergi tanpa memberikan isyarat apapun bahwa pertemuan mereka malam itu telah berakhir.
“Gadis aneh, misterius, kerjaannya ngoceh-ngoceh gak jelas dari tadi. Untung aja manis, jadi gue betah.” Lirih Revi, sambil mengikuti Rindi dari belakang.
******
Beberapa menit kemudian, Rindi sudah sampai di perumahan tempat ia tinggal, berjalan kaki dengan santai. Tanpa menghiraukan pria yang mengikuti nya, sebenarnya ia sadar bahwa ia sedang di ikuti, namun sesuatu seperti membuatnya membiarkan pria itu mengikutinya. Menghirup sejuknya udara malam yang menyelimuti dirinya. Dan akhirnya ia sampai didepan rumah yang sederhana dan minimalis, rumah nya.“Ah segarnya udara ini,” katanya tiba-tiba tersenyum.
“Akhirnya sampai juga, kalau begitu aku pulang.” Sebelum Rindi sempat berkata apapun, Revi telah membalikkan badan dan mengangkat tangan kanan nya, dan melebarkan telapak nya. “Alien macam apa ia itu?” Komentar Rindi sambil mengangkat bahu. Langsung masuk kerumah nya. “Aku pulang.” Dan seketika itu, berlari, melompat ke ranjang di kamar nya. Berusaha untuk tidur.
******
Malam ini sangat sempurna, sayang. Memang aku mencintaimu, kau selalu ada di dalam ruang kecil ini. Sukma ku. Namun, maafkan aku. Tak mungkin aku akan selalu berharap kepadamu yang telah tiada.Kali ini, aku akan melakukan persis yang kamu sampaikan kepadaku. Batin Revi ketika ia duduk sendiri. Menatap langit yang menampilkan bulan dan bintang . Hal yang sangat dicintainya, karena ia sudah terbiasa melihat nya hampir setiap malam bersama orang yang mengisi tempat terbaik didalam hatinya. Yang dulu tinggal disebelah rumahnya. Weny.

Menulis Cinta











Aku merindukanmu
Dari rambut, hingga kepala.
Hingga kenangan

Sampai jari, hingga siku.
Hingga pelukan

Hingga kaki hingga langkah,.
Menujumu ~Riesna Kurnia(@riesna_)

Kucari kata yang dapat menjelaskan cinta.
Menjadikannya gambaran dari sebuah rasa yang sungguh berbeda.

Mendeskripsikan hal yang menciptakan kebahagiaan dari kedamaian.
Sesuatu yang mengubah kutukan menjadi hal yang patut dibanggakan.

Dan ketika ku mencari kata itu, yang terbayang hanyalah dirimu. ~Mayovi Ardian(@mayopiardian)


Kauminta aku menulis cinta,
Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya.

Kubolak-balik seluruh abjad.
Kata-kata cacat yang kudapat.

Jangan minta lagi aku menulis cinta.
Huruf-hurufku, kau tahu, bahkan tak cukup untuk namamu.

Sebab Cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut, kecuali dengan denyut.

~Sitok Srengenge(@1Srengenge)